TERKINI

Muridku Hanya Bisa Mengejar Cita-Cita Dengan Doa

Oleh : Ginanjar Hambali

Ramadhan tahun ini hampir sebentar lagi berlalu, setelah shalat tarawih di salah satu ruang kelas, kami duduk melingkar, enam murid, dan saya sebagai guru. Kebetulan enam murid itu semuanya perempuan, kami terutama mereka banyak bercerita tentang cita-cita sampai jatuh cinta, kondisi sekolah sampai keluarga. Teman yang menyebalkan di kelas sampai gaya guru dalam mengajar.

Sambil berbincang, saya dan mereka sesekali melihat keatas melalui pintu dan jendela sekolah, di luar langit malam terlihat hitam pekat, satu dua bintang terlihat, sinarnya berkelap-kelip.

Kegiatan itu adalah bagian dari acara pesantren kilat, sesi pembinaan mental untuk mengetahui persoalan belajar dan memotivasi murid agar tetap semangat belajar, terutama bagi kelas dua belas. Jadi bukan kebetulan kalau para murid itu semuanya kelas dua belas yang beberapa bulan ke depan akan mengikuti ujian nasional.

Sekolah kami, sekitar lima kilometer dari ibu kota kabupaten, ibu kota kecamatan dimana warung internet baru beberapa bulan saja hadir di sana, tidak ada pedagang koran, tidak ada toko buku dan di kelas mereka rata-rata menggunakan buku Lembar kerja siswa (LKS), karena jarak dan kemampuan daya beli yang repot untuk membeli buku pelajaran penunjang.

Ditengah keterbatasan, mereka juga mempunyai potensi dan cita-cita yang hebat, paling tidak menurut saya. Saya tidak akan dan tidak bisa menceritakan cerita mereka disini semuanya, hanya sedikit saja terutama mengenai cita-cita mereka bila lulus kelak dari SMA.

Baiklah, saya mulai saja. Salah satu murid saya, tinggal di pondok pesantren, bercita-cita menjadi guru kimia. Sebagai murid dan juga santri dia punya jadwal belajar di sekolah, mengaji di pondok pesantren, masak, dan mencuci pakaian sendiri. Dia tidak lupa menghapal pelajaran sekolah dan mengaku sering terbangun tengah malam, sholat malam dan membuka catatan pelajaran dan mengutak-atik rumus kimia, untuk mewujudkan cita-citanya.

Selain jatuh cinta pada rumus-rumus kimia, sejak sekolah dasar, ternyata dia sangat rajin menulis catatan harian, mengaku sudah memiliki berpuluh-puluh buku catatan harian, ada salah satu buku catatan harian yang memiliki lima ratus lebih halaman. Sejumlah cerpen telah dia buat, dan dia juga berencana merampungkan novel, kata dia novelnya sudah rampung dua bab. Apakah suka mengirimkan karya ke media massa? “Sampai saat ini baru koleksi pribadi saja pak,” katanya, tersipu.

Menurutnya, menulis sebagai ajang pelampiasan emosi, awal menulis buku harian, karena dia merasa lelah harus menempuh jarak yang lumayan jauh untuk pergi sekolah dasar. Melewati sawah, sungai dan sedikit hutan, berkelok-kelok dan tidak kurang dari satu kilometer lebih jarak dari rumah ke sekolahnya. Sejak SD sampai sekarang dia terus menulis di buku harian.

Selain menulis, dia juga ternyata sering tampil menari terutama menari jaipong. Dia mengaku tidak tahu, mengapa dia jatuh cinta pada menari, yang jelas seperti menulis, kalau sudah menari sering lupa terhadap persoalan yang menghimpit. Dia banyak belajar menari sendiri dan harus sembunyi-sembunyi, karena seringkali disalahkan oleh sebagian santri, yang masih menganggap anak pondok tidak pantas menari. Dia anak kedua dari dua bersaudara, bapaknya bekerja serabutan sebagai buruh tani. Menulis, menari menjadi kesehariannya, melanjutkan pendidikan, adalah sebuah harapan.

Murid yang kedua, bercita-cita menjadi bidan. Dia mengaku mempunyai cita-cita itu, karena di kampungnya, belum ada bidan. Barangkali juga karena dia melihat ibunya sering melahirkan. Dia anak ketiga dari sembilan bersaudara, ayahnya bekerja sebagai petani. “Barangkali begitu juga pak, kasihan kalau lihat ibu melahirkan,” katanya.

Murid yang ketiga, bercita-cita menjadi pramugari, tapi orangtuanya lebih senang kalau dia menjadi bidan. Tapi, kenyataan tidak seindah yang dibayangkan, karena usaha jual beli hasil pertanian yang dilakukan oleh keluarganya sedang tidak begitu bagus. Murid yang keempat, inginnya menjadi perawat.

Murid yang kelima, mempunyai mimpi menjadi guru. Dia mengaku tinggal bersama neneknya, sementara orangtuanya di Jakarta. Dia tidak tahu pasti pekerjaan Ayah dan Ibu di Jakarta, yang jelas bekerja, kadang mengirim uang untuk biaya sekolah, tapi selebihnya ditanggung oleh neneknya yang bekerja sebagai buruh tani. “Kalau tidak bisa kuliah, mungkin kerja dulu pak,” katanya, sambil menambahkan dia ingin menjadi guru agar bisa lepas dari jerat kemiskinan yang membelit.

Murid yang keenam, inginnya menjadi dokter. Dia mengaku tidak ada masalah dengan persoalan biaya. Hanya dia merasa takut, kalau nanti berhubungan dengan mayat.

Saya bangga mempunyai murid yang memiliki cita-cita, namun apakah mereka bisa mewujudkan harapan? Biaya kuliah menjadi masalah bagi mereka yang berasal dari keluarga yang tidak mampu, buruh, petani, usaha yang sedang terpuruk, dan mereka yang memiliki orangtua setengah pengangguran. Lima murid merasa galau untuk melanjutkan kuliah.

Sebagai guru, saat itu saya hanya bisa menyatakan, “tugas kita adalah belajar, belajar dan belajar, sambil melihat, membaca dan meraih peluang agar kita bisa mewujudkan cita-cita dan harapan kita, semoga kalau tidak tahun ini kalian bisa kuliah, barangkali nanti bisa bekerja dan melanjutkan kuliah”. Berharap, semoga malam itu, adalah malam terindah dan Tuhan memberikan keajaiban untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka.

Kami pun berdoa, malam itu. Semoga pemerintah masih ada dan hadir untuk menolong mereka, bukan hanya murid saya yang malam itu, melingkar dan bercerita karena begitu banyak anak-anak mempunyai cita-cita, tapi harus terbentur biaya kuliah setinggi langit.

Pemerintah pusat beberapa tahun kebelakang menggulirkan program bidik misi untuk memberi peluang anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu dan memiliki kemampuan akademis sesuai yang disyaratkan bisa kuliah gratis di sejumlah Perguruan Tinggi (PT), tapi berapa persen program itu bisa memberi harapan, karena ada begitu banyak jutaan anak-anak, akhirnya hanya bisa menyimpan cita-cita?

Bagaimana peran pemerintah daerah Kabupaten dan Provinsi? Saya berharap, mereka juga lebih hadir. Lihatlah, banyak remaja-remaja kita dengan mimpi-mimpi mereka yang begitu hebat, dengan segala potensi yang mereka miliki. Semoga pemerintah tidak abai melihat persoalan ini. Semoga mimpi-mimpi itu tidak redup dihantam kenyataan. Padamu Tuhan, kami bersimpuh. (*)

Penulis : Seorang guru di Pandeglang. Alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

TEKNO

ADVETORIAL

OPINI

Apa implikasi rektrutmen pejabat berbagai level pemerintah setelah disahkan RUU ASN menjadi UU ASN?

Ginanjar Hambali*

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh dalam sambutan pada pelaksanaan upacara bendera memperingati HUT ke-69 Kemerdekaan Republik Indonesia, di kantor Kemdikbud, Minggu (17/08/2014) menyatakan