PENDAHULUAN: Masihkah Jurnalistik Diperlukan?

Apakah jurnalistik masih diperlukan dalam trend media sosial yang semakin menguat di dunia ini?

Dari berbagai studi menyebutkan, hingga tahun 2020, dua pertiga pengguna internet mengunjungi media sosial seperti facebook, youtube, twitter, instragram, menggunakan whatsapp, telegram dan sebagainya. Kunjungan itu tentu untuk mencari informasi, terlepas apakah informasi yang diperoleh itu valid atau tidak. Bahkan mereka percaya media sosial lebih cpeat dibandingkan media mainstream. Pengguna media sosial itu berusia 15 tahun hingga 60 tahun.

Pengguna media sosial berkarakter personal atau pribadi. Postingan di media sosial tentu saja tidak lah menggunakan pedoman karya jurnalistik, tetapi lebih pada penuturan pribadi. Bahkan ada yang bersifat curhat, memosting hal-hal pribadi mulai dari kecantikan, masak memasak, membagikan momen pertemuan di kafe, restoran atau tempat-tempat yang memiliki memori indah atau buruk bagi pemilik akun.

Tidak jarang, postingan di media sosial mengandung unsur berita yang sangat kuat, ditulis dengan baik dan disajikan sesuai dengan pedoman jurnallistik. Postingan seperti ini sangat jarang ditemukan di media sosial, kecuali pemilik akunnya adalah perusahaan media atau lembaga-lembaga resmi.

Yang lebih banyak ditemukan adalah postingan yang bisa dikatagorikan sebagai rumor atau isu-isu, penuh dengan prasangka, berisi caci maki atau bertendensi merusak obyek yang dijadikan target dalam postingan tersebut. Atau postingan jenis ini acapkali distempel dengan HOAX.

Trend media sosial yang menguat itu sementara ini dianggap sebagai ancaman bagi media mainstream seperti media cetak, media online, radio dan televisi. Media radio jelas semakin tergeser dengan aplikasi penyediaan lagu, media televisi kini menghadapi media sosial yang berbasis video / film dan media online jelas menghadapi berekembangnya facebook, twitter dan sejenisnya.

Namun para pelaku industri media tetap optimis bahwa keberadaan media sosial justru menjadi tantangan, bukan ancaman yang sesungguhnya. Sebaliknya, media sosial bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal mulai dari sumber berita awal hingga penambah nilai dalam advertising.

Para pemimpin redaksi media mainstream yang berkumpul dalam Seminar Nasional dengan tema Media Literasi Pada Era Digital; Kontradiksi Jurnallisme dan Media Sosial, tanggal 12 Juli 2012 berkeryakinan, media mainstream akan tetap dibutuhkan masyarakat. Karena sifat media mainstream yang tidak bisa ditemukan pada media sosial.

Perbedaan antara postingan yang ada di media sosial dengan media mainstream adalah sebuah berita harus harus melalui sebuah proses, yaitu proses konfirmasi, verifikasi dan investigasi. Sedangkan kabar yang termuat di medsos tidak perlu proses itu, cukup posting secara personal, apakah itu “sampah” atau bukan.

Para pelaku industri media tetap yakin, melalui sebuah proses itu, jurnalistik tetap dibutuhkan untuk menyampaikan informasi yang benar, akurat dan terpercaya.

Bisa jadi, saat ini sebagian masyarakat lebih percaya dengan apa yang dimuat di media sosial, tetapi mereka berkeyakinan, suatu saat media sosial yang ditempatkan pada tempat yang seharusnya, bukan lagi sebagai tempat untuk mencari berita yang terpercaya dan akurat.

Dalam konteks itu, kami dari MediaBanten.Com menyajikan PANDUAN JURNALISTIK yang disusun seperti sebuah buku, meski dimuat dalam porta berita. Halaman utamanya sengaja dibuat seperti halaman daftar isi buku dengan tujuan pembaca bisa mengikuti item-item pengetahuan.

Target kami adalah pembaca bisa menulis sesuatu yang sesuai dengan kaidah jurnalistik, setidaknya jurnalistik dasar. Dengan jurnalistik dasar, tergantung pembaca apakah akan dikembangkan lebih lanjut menjadi keterampilan yang mumpuni dalam menulis.

Serang, April 2021

Penulis

IMAN NUR ROSYADI

Kembali ke DAFTAR ISI


Apakah Artikel Ini Bermanfaat? Silakan Berdonasi. Klik Tombol Di Bawah Ini.
donate-button