Ekonomi

Dinas Pertanian Banten Targetkan 24.261 Hektar Lahan Pertanian Terapkan PM-AAS Tahun 2026

Dinas Pertanian Provinsi Banten menargetkan 24.165 hektar lahan pertanian pada tahun 2026 yang menerapkan metode pertanian modern advanced agricultural system atau PM-AAS yang panen perdananya dilakukan Gubernur Banten, Andra Soni di Kelurahan Kesunyatan, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Selasa (1/9/2026).

Demikian dikemukakan Saipul Bahri Maimun, Plt Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten yang dihubungi MediaBanten.Com, Selasa (2/9/2026).

Saipul mengatakan, target lahan petanian yang menggunakan metode pertanian modern itu dirinci Kabupaten Serang seluas 7.377 hektar, Kabupaten Tangerang 6.789 hektar, Kabupaten Pandeglang 4.683 hektar, Kabupaten Lebak 4.673 hektar. Sedangkan target di Kota Serang 654 hektar, Kota Cilegon 4 hektar dan Kota Tangerang 5 hektar.

“Metode Pertanian Modern Advanced Agricultral System atau PM-AAS ini salah satu kelebihanny aadalah mengefisienkan biaya pengolahan lahan, yaitu tenaga kerja tanam yang sekarang semakin sulit mencari orang untuk tanam padi,” kata Saipul Bahri Maimun.

Namun yang terpenting, kata kata Plt Kadis Pertanian Banten, dalam sistem pertanian ini diterapkan teknologi baru yang bisa mengefisienkan seluruh tahapan yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan petani.

“Modernisasi itu dapat meningkatkan produktivitas hasil panen padi mencapai 12,88 ton per hektar dari hasil normal sebesar 6 ton per hektar,” katanya.

PM-AAS merupakan sistem pertanian intensif berbasis teknologi yang mengintegrasikan efisiensi, mekanisasi modern, dan ketepatan input produksi.

Model ini mengadopsi keberhasilan praktik pertanian di kawasan subur Delta Arkansas, Amerika Serikat, yang dipadukan dengan kondisi agroklimat dan kearifan teknologi lokal Indonesia.

Katanya, kehadiran inovasi ini sama sekali bukan untuk menggantikan peran petani, melainkan sebagai booster agar manajemen budi daya di lapangan menjadi jauh lebih efektif, terukur, dan menghasilkan panen yang melimpah.

6 Prinsip Utama Implementasi PM-AAS

Dikutip dari lamam pertanian.go.id disebut, untuk membangun ekosistem pertanian modern yang kokoh, PM-AAS bersandar pada enam prinsip dasar berikut.

  1. Tanam Rapat dalam Baris. Penerapan sistem tanam dengan jarak rapat dan teratur di dalam baris guna memaksimalkan efisiensi pemanfaatan lahan serta mendongkrak hasil produksi per hektar.
  2. Efisiensi Sumber Daya. Pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan input hara dan air irigasi untuk mencegah pemborosan sekaligus mendukung keberlanjutan produktivitas.
  3. Mekanisasi Pertanian. Penggunaan alsintan modern secara menyeluruh di setiap tahapan budi daya demi menghemat waktu operasional dan menekan kebutuhan tenaga kerja.
  4. Implementasi Berbasis Korporasi (Skala Luas). Pengelolaan lahan secara profesional dan terintegrasi melalui konsolidasi lahan, yang didukung kemitraan kuat antara kelompok tani (poktan/gapoktan) dengan koperasi guna meningkatkan skala ekonomi dan daya saing.
  5. Intensifikasi Produksi. Fokus pada peningkatan hasil per hektare melalui sistem tanam benih langsung jarak rapat, pengelolaan unsur hara intensif, irigasi yang tertata, serta pengendalian gulma secara ketat.
  6. Spesifik Lokasi. Pendekatan adaptif yang disesuaikan dengan karakteristik agroekosistem setempat, khususnya sangat optimal diterapkan pada hamparan lahan datar yang luas dengan pengaturan air yang mudah.

Implementasi PM-AAS di lapangan didukung oleh ekosistem teknologi digital dan mekanisasi penuh dari hulu ke hilir:

  • Olah Lahan Maksimal. Jerami sisa panen dikembalikan ke sawah untuk menjaga kesuburan organik, digenangi air, lalu diolah menggunakan traktor atau rotavator. Pematang serta saluran inlet dan outlet irigasi dirapikan menggunakan land leveler agar distribusi air dan pupuk tidak hilang terbuang.
  • Sistem Tanam Benih Langsung (Tabela). Penanaman tidak lagi melalui persemaian konvensional yang memakan waktu. Menggunakan alat drum seeder, benih dari varietas unggul bermutu (berbatang kokoh, malai lebat, dan tahan rebah) langsung ditanam di lahan kondisi lembap dengan pola jajar legowo 4:1 atau 6:1.
  • Pemupukan dan Proteksi Presisi.Takaran pupuk ditentukan secara ilmiah melalui analisis tanah PUTS atau soil sensor. Aplikasi pupuk, herbisida, maupun pestisida pada hamparan luas diefisiensikan menggunakan teknologi drone penyemprot (sprayer drone). Kondisi cuaca makro pun dipantau secara real-time via Automatic Weather Station untuk mendukung akurasi keputusan budidaya.
  • Pengelolaan Air Pintar. Menggunakan teknologi irigasi Alternate Wetting and Drying (AWD) yang hemat air tanpa mengurangi potensi hasil tanaman.
  • Panen Optimal. Menggunakan mesin combine harvester ketika 85–90% bulir padi telah menguning secara seragam untuk menekan angka kehilangan hasil (losses).

(Penulis: IN Rosyadi)

Iman NR

Back to top button