Ekonomi

Harga Anjlok Lebih 50%, Petani Kakao Tunda Penjualan

Sejumlah petani kakao di Kabupaten Lebak, Banten, terpaksa menunda penjualan akibat harga di pasaran anjlok lebih 50 persen dari Rp45.000 menjadi Rp20.000 per kilogram (Kg).

“Kita panen kakao bulan Januari 2026 lalu, lebih baik disimpan sambil menunggu harga kembali membaik,” kata Didi, seorang petani kakao di Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Sabtu (21/2).

Anjloknya kakao tersebut, menurut dia, sudah terjadi dalam beberapa hari terakhir di tingkat pengepul. Padahal sebelumnya harga kakao cukup baik, bahkan sempat menembus Rp135.000 per kg pada 2024.

Oleh karena itu, Didi yang saat ini memiliki biji kakao sebanyak 500 kg mengatakan lebih memilih menyimpannya sambil menunggu harga kembali membaik.

“Kami tidak menjual kakao dulu, karena harganya murah dan dipastikan merugi,” katanya menjelaskan.

Begitu juga petani kakao Lebak lainnya, Ujang yang mengaku memiliki kakao sebanyak 250 kg, namun terpaksa tidak menjual karena harga di pengepul turun.

Penurunan harga kakao yang terjadi beberapa hari terakhir itu, menurut dia, dipengaruhi oleh musim panen di beberapa daerah sentra penghasil coklat.

“Kita lebih baik tidak menjual kakao terlebih dahulu sambil menunggu kepastian harga pasaran,” katanya.

Sementara itu, Bambang (47) seorang pengepul hasil bumi di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, mengatakan kini menampung kakao kering dari berbagai daerah di Lebak, Serang dan Pandeglang, namun dengan jumlah relatif kecil.

“Kami sekarang tampak sepi untuk menampung kakao, karena kebanyakan petani menunda menjualnya usai harga coklat anjlok,” katanya menjelaskan. (Pewarta : Mansyur Suryana – LKBN Antara)

Iman NR

Back to top button