Rp6.000 Dapat Nasi Plus Daging Ayam, Hanya di Warung Nasi Pokja Warjok

Hari gini, Rp6.000 bisa makan sepiring nasi dengan daging ayam atau sepotong ikan dan sayuran dengan porsi yang cukup mengenyangkan, apalagi lokasi belinya di Jakarta?

Tapi ini bukan mimpi atau sekadar jargon untuk mengelabui pembeli. Itu harga yang bisa didapatkan di Warung Nasi Pokja Warjok di Jalan Tebet Barat I 21B, Kelurahan Tebet, Jakarta Selatan. Kok bisa?

Tentu bisa. Sebab Warung Nasi Pokja Warjok didirikan bukan untuk mencari untung, tetapi lebih menekankan pada berbagi pada sesama. Harga makanan yang dijual merupakan harga modal, bukan harga yang sudah diberi keuntungan. Hasil penjualan itu digunakan untuk berbelanja kebutuhan Warung Nasi Pokja Warjok untuk esok hari.

Maryono, salah satu pendiri Komunitas Pokja Warjok mengisahkan peristiwa dibalik pendirian komunitas tersebut. “Sore itu saya melihat seorang ibu tua berlindung di bawah pohon tak begitu rindang. Hujan membasahi pakaiannya. Saya tanya dia mau ke mana, tapi dia diam saja. Wajahnya terlihat pucat, dan bibirnya kelihatan menggigil. Ternyata dia belum makan karena tidak ada uang. Saya terenyuh, dan membuat saya tergugah untuk mendirikan Pokja Warjok,” kata Maryono, Kamis (7/2/2019).

Peristiwa itu sangat membekas dalam ingatan Maryono. Kemudian, dia mengumpulkan teman-temannya dan menyampaikan idenya untuk membantu orang-orang yang kesulitan untuk mendapatkan makan karena keterbatasan uang. Pada tanggal 24 September 2018, dia dan teman-temannya mendirikan Komunitas Pokja Warjok yang salah satu programnya adalah mendirikan warung nasi yang menjualnya hanya modalnya, tanpa keuntungan.

Baca: Waw! Diklat Pemantapan Nilai Kebangsaan Eselon 2 dan 3 Pemprov Banten di Kopassus

Model bantuan pun diterapkan secara unik. Makanan dijual dengan harga modal, bukan dengan keuntungan. Porsinya cukup membuat kenyang dengan lauk yang bisa dipilih mulai dari sepotong ayam, ikan laut, ikan nila, lele dan sayuran. Tentu saja disediakan juga minuman dingin dan minuman hangat.

“Hasil penjualan dengan harga modal ini kami gunakan untuk belanja kebutuhan untuk berjualan esok harinya. Sumbangan dari anggota pokja dan donatur kami terima untuk semakin meningkatkan pelayanan warung nasi Pokja Warjok,” kata Maryono.

Pola bantuan dengan semangat berbagi itu sengaja diterapkan untuk menjaga harga diri para warga kurang mampu agar mereka tidak merasa segan atau malu datang ke warung nasi untuk berbelanja. “Kalau dia punya uang cuman Rp6.000 atau kurang sedikit, itu sudah cukup untuk makan dengan porsi kenyang. Enggak perlu malu karena dia bayar kok, meski hanya bayar modalnya saja,” katanya.

Warung Nasi Pokja Warjok ini awalnya didirikan di Tebet, Jakarta Selatan. Warung nasi itu kini sudah berkembang ke sejumlah di Pulau Jawa. Konsep utamanya adalah berbagi kebaikan.

Maryono yang dipercaya sebagai Ketua Umum Pokja Warjok memiliki program #berbagikebaikan dengan mengonsep Pokja Warjok dengan beberapa tujuan, selain untuk membantu warga kurang mampu juga untuk membantu masyarakat dalam mendirikan UMKM, dan juga jadi tempat bagi kalangan milenial untuk diskusi dunia kreatif mereka dalam keikutsertaan mereka dalam membangun bangsa. (Dilaporkan oleh Muhammad Fadhli)

Berita Terkait