Pemuda dan Mahasiswa Demo Kejari dan Pemkab Pandeglang Soal Korupsi

Foto: Beni Madsira

Puluhan pemuda dan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Pemuda Indonesia (AMPI) dan Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Pandeglang (GEMAPAN) melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor Kejaksaan Negeri Pandeglang, Rabu (7/3/2018).

Aksi ini dilakukan dalam rangka menuntut agar Kejaksaan Negeri Pandeglang megusut tuntas semua kasus yang ada di Pandeglang.

Sebelumnya, massa aksi juga melakukan aksi unjuk rasa di depan kantor Bupati Pandeglang dan kantor DPRD Pandeglang dengan tuntutan agar DPRD Pandeglang menolak laporan pertanggungjawaban (LPJ) Bupati tahun 2017 kemudian DPRD juga diminta untuk menggunakan Hak Angket dan Hak Interpelasi.

Baca: Polsek Kramatwatu Bongkar Kasus Pemalsuan KTP, AkteKelahiran, KK dan SIM

Aksi ini dipimpin oleh koordinator aksi atas nama Ahmadi dengan massa yang membawa beberapa poster, di antaranya bertuliskan “Kejari Pandeglang jangan mandul tangkap korupsi”. Sementara poster lain bertuliskan “Penegak hukum jangan lemah dan lengah di Bumi Pandeglang”. Poster tersebut kemudian dibakar di depan Kantor Kejari Pandeglang.

Dalam aksinya, koordinator aksi mengatakan bahwa jika tuntutan massa tidak dipenuhi, maka akan melakukan aksi unjuk rasa lagi dengan jumlah massa yang lebih besar.“Kami minta tuntuntan kami dipenuhi, kalau tidak dipenuhi, maka kami akan unjuk rasa dengan massa yang lebih besar,” ancamnya.

Selain itu, salah satu orator mengatakan bahwa pihaknya menuding bupati beserta jajarannya telah mengambil hak-hak masyarakat. “Bupati Pandeglang bersama kroni-kroninya, telah mengambil hak-hak kami, hak-hak masyarakat Pandeglang,” katanya.

Berdasarkan pantauan di lokasi, aksi ini sudah mendapat pengawalan dari pihak kepolisian atau Polres Pandeglang yang terdiri dari Satuan Sabhara yang bertugas mengawal massa dan Satuan Lalu Lintas yang mengatur lalu lintas sekitar Kejari Pandeglang. (Beni Madsira)

IN Rosyadi

Jurnalis at MediaBanten.Com
Menjadi wartawan sejak tahun 1984 pada Harian Umum (HU) Kompas, kemudian mengundurkan diri pada Agustus 1999 dan menjadi wartawan harian sore Sinar Harapan pada tahun 2001 hingga tahun 2015, saat koran sore ini bangkrut. Pengalaman ini memadai untuk menjadi seorang editor yang mumpuni.

Berita Terkait