10.000 Murid Madrasah Aliyah Swasta di Banten Bakal Sekolah Gratis Tahun Ini
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten menggratiskan 10.000 murid madrasah aliyah (MA) swasta guna membuka akses pendidikan yang seluas-luasnya di daerah setempat.
“Kita tahun ini memprogramkan gratis untuk sekolah Madrasah Aliyah swasta sebanyak 10.000 siswa siswi itu,” kata Gubernur Banten Andra Soni saat meninjau pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMAN 1 Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Senin.
Pemerintah Banten kini membuka akses pendidikan seluas-luasnya agar anak -anak mendapatkan pendidikan yang baik dan berkeadilan.
Ia menjelaskan pendidikan sebagai kebutuhan penting untuk kehidupan karena dapat mencetak sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan berkarakter.
Oleh karena itu, Pemprov Banten memprogramkan sekolah gratis agar tidak ada lagi anak-anak di daerah itu putus sekolah.
Saat ini, Pemprov Banten menjalin kerja sama dengan 801 sekolah swasta tingkat SMA, SMK, dan sekolah khusus (SKh) untuk program sekolah gratis dengan sasaran penerima manfaat mencapai 60.705 siswa.
Ia mengatakan sekolah gratis sudah berjalan sejak 2025, sedangkan tahun ini menambah kuota 10.000 siswa dan siswi MA swasta.
“Kami berharap program sekolah gratis ini bisa dikawal dengan sebaik-baiknya,” kata Andra Soni.
Menurut dia, pelaksanaan SPMB di Provinsi Banten secara umum berjalan baik, termasuk di SMAN 1 Rangkasbitung. Ia meminta masyarakat melapor jika terjadi kecurangan-kecurangan dalam proses SPMB.
“Kita berharap pelaksanaan SPMB di Banten objektif, transparan, dan berkeadilan,” katanya.
Pelaksana Tugas Kepala SMAN 1 Rangkasbitung Heri Fasa mengatakan pelaksanaan SPMB di sekolah itu berjalan baik dan transparan mulai dari persyaratan domisili, wilayah, afirmasi, akademisi, dan non-akademisi.
“Kita menerima tahun ajaran 2026/2027 sebanyak 214 siswa siswi,” kata dia.
Sejumlah masyarakat Rangkasbitung mengapresiasi Gubernur Banten menggratiskan 10.000 siswa dan siswi MA swasta.
“Kami merasa lega kebijakan Gubernur Banten Andra Soni memperhatikan pendidikan berbasis madrasah,” kata Dedi, mantan Kepala Sekolah MA Wasilahtul Falah Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. (Pewarta : Mansyur Suryana – LKBN Antara)









