Pemkab Serang Pulihkan 17 Hektare Sawah Dari Ancaman Kekeringan
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Serang, Banten, berhasil memulihkan 17 hektare lahan pertanian dari ancaman kekeringan.
Kepala DKPP Kabupaten Serang Suhardjo, di Serang, Selasa, menyampaikan langkah antisipasi akan terus dimaksimalkan untuk menyelamatkan lahan kritis lainnya di tengah ancaman fenomena El Nino yang berpotensi memperparah krisis air.
“Pemerintah daerah telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi agar dampak kekeringan terhadap produksi pangan ini tidak semakin meluas,” katanya.
Keberhasilan memulihkan 17 hektare lahan tersebut menjadi angin segar di tengah prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), yang menyatakan puncak musim kemarau tahun 2026 terjadi pada periode Juli hingga September.
Berdasarkan data DKPP, ancaman kekeringan di Kabupaten Serang secara total tersebar pada 965 hektare lahan pertanian.
Selain 17 hektare yang telah berstatus pulih atau sembuh, saat ini masih terdapat 474 hektare lahan berstatus terancam, serta lahan dengan kategori rusak ringan seluas 400 hektare, sedang 291 hektare, berat 202 hektare, dan puso (gagal panen) mencapai 72 hektare.
Adapun sebaran wilayah yang tanaman padinya terdampak kekeringan mencakup 11 kecamatan, yakni Kecamatan Pamarayan, Petir, Tirtayasa, Tunjung Teja, Bandung, Tanara, Jawilan, Kopo, Pontang, Anyer, dan Binuang.
Terkait kendala di lapangan, Suhardjo menjelaskan penyebab utama kekeringan ekstrem di sejumlah wilayah tersebut dipicu oleh ketiadaan curah hujan dalam beberapa hari terakhir.
Ia menambahkan, kondisi itu diperparah banyaknya sawah tadah hujan yang tidak memiliki sumber air, menyusutnya debit air, hingga jarak lokasi sumber air yang terlalu jauh dan menyulitkan proses pompanisasi.
“Sebagai langkah penanganan untuk memulihkan lebih banyak lahan dan mencegah perluasan dampak, DKPP Kabupaten Serang telah mendistribusikan sekitar 600 unit pompa air selama periode 2023 hingga 2025,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah setempat juga memasifkan pembangunan 99 titik infrastruktur pendukung pengairan. Sarana tersebut terdiri atas 52 titik Irigasi Perpompaan (Irpom), 29 titik Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT), 16 titik sumur bor, dan dua titik Irigasi Perpipaan (Irpa).
Guna memperkuat ketahanan produksi pertanian dari ancaman perubahan iklim, pada tahun ini DKPP turut merealisasikan program optimalisasi lahan pertanian seluas 1.599 hektare yang didukung dengan biaya pengolahan lahan sebesar Rp4,6 juta per hektare. (Oleh Desi Purnama Sari – LKBN Antara)









