34 Tahun Secure Parking: Transformasi Bisnis, Teknologi, dan Pengelolaan Parkir
Selama 34 tahun beroperasi di Indonesia, PT Securindo Packatama Indonesia (Secure Parking Indonesia /SPI) telah berkembang dari pionir layanan parkir modern menjadi pengelolaan parkir dengan sistem yang juga mengembangkan solusi menyeluruh.
Perkembangan tersebut mencerminkan evolusi perusahaan, dari operator parkir yang berani mengadopsi teknologi, terus memperkuat sistem operasional, hingga mengembangkan aset lahan parkirnya.
Dalam perayaan 34 tahun ini, Secure Parking Indonesia turut menegaskan semangat Smart Mobility. Trusted People., yang mencerminkan perpaduan teknologi dan peran manusia dalam menghadirkan layanan dan pengelolaan parkir yang andal.
Hingga Juli 2026, SPI telah menambah sekitar 118 lokasi baru dan mengelola sekitar 1.700 titik parkir di berbagai wilayah Indonesia. Perusahaan juga memperkirakan melayani hampir dua juta kendaraan setiap hari, mencakup mobil, sepeda motor, bus, truk, dan trailer. Skala ini menempatkan konsistensi operasional dan kemampuan beradaptasi sebagai tantangan penting dalam pengembangan bisnis.
Ketika skala layanan parkir modern semakin besar dan kebutuhan setiap lokasi semakin beragam, pengalaman panjang selama lebih dari tiga dekade itu harus diterjemahkan menjadi kemampuan untuk beradaptasi dan mengembangkan solusi dalam pengelolaan parkir.
“Pengalaman baru memberikan nilai ketika kita mau mempelajarinya, mengevaluasi apa yang terjadi, dan menerapkan pembelajaran tersebut dalam pekerjaan sehari-hari,” ujar Rustam Rachmat, Managing Director Secure Parking Indonesia.
Solusi Terintegrasi
Mengelola ribuan lokasi dengan karakteristik berbeda menuntut lebih dari sekadar penerapan prosedur yang seragam. Sistem parkir harus mampu mengikuti pola aktivitas pengguna, kapasitas area, kebutuhan pengelola kawasan, dan kondisi operasional di setiap lokasi.
Kompleksitas tersebut terlihat di salah satu kawasan yang dikelola SPI, yaitu kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Di lima area parkir yang mencakup Pondok Indah Mall dan Pondok Indah Office Tower, SPI menangani kapasitas gabungan sekitar 10.000 kendaraan. Operasional yang berlangsung selama 24 jam membutuhkan koordinasi antara petugas lapangan, pengaturan kapasitas, pemantauan melalui Control Room, dan pengelolaan arus kendaraan.
Sementara itu, penerapan teknologi di Plaza Indonesia memberikan gambaran bagaimana sistem dapat mengubah proses operasional. Sejak 2024, 95% transaksi parkir di lokasi tersebut telah ditangani menggunakan license plate recognition (LPR). Dengan teknologi tersebut pemantauan proses yang sebelumnya melibatkan 12 orang per shift kini dapat dikoordinasikan oleh satu petugas di control center, dengan tetap didukung tim lapangan sesuai kebutuhan operasional.
Meskipun tak bisa digeneralisasi ke seluruh lokasi operasional, contoh ini menunjukkan bagaimana teknologi dapat mengubah cara proses parkir dijalankan dan dipantau.
Menentukan Solusi
Namun, adopsi teknologi bukan sekadar mengikuti tren digitalisasi, melainkan lebih ke kebutuhan operasional. Kebutuhan pusat perbelanjaan dapat berbeda dari gedung perkantoran, rumah sakit, bandara, atau kawasan dengan fungsi campuran. Perbedaan pola kunjungan, arus kendaraan,
kapasitas, dan kebutuhan layanan membuat solusi perlu disesuaikan dengan kondisi masingmasing lokasi.
Karena itu, SPI mengembangkan dan menerapkan sejumlah solusi, termasuk Epsilon Parking System (EPS) atau sistem parkir geneasi ke-lima, eNOS atau Epsilon No Scan No Tap, dan Flaplock pada konfigurasi lokasi tertentu. EPS mendukung pengelolaan dan pelaporan operasional secara terintegrasi. Sementara itu, eNOS memanfaatkan pengenalan pelat nomor untuk memungkinkan proses parkir tanpa tiket atau tap kartu, sesuai konfigurasi layanan yang digunakan. Plaza Senayan termasuk lokasi yang telah menerapkan EPS.
“Teknologi bukan tujuan akhir. Teknologi harus membantu pekerjaan menjadi lebih baik dan memberikan manfaat bagi pengguna,” kata Rustam.
Pengembangan Model Bisnis
Perubahan SPI tidak hanya berlangsung pada sistem operasional, tetapi juga model bisnis. Pada 2025, SPI memperkenalkan Secure Park di kawasan PIK 2, menandai langkah perusahaan untuk memiliki, berinvestasi pada, dan mengoperasikan aset parkirnya sendiri.
Langkah tersebut melengkapi peran yang selama ini dijalankan dalam mengelola fasilitas parkir milik pihak lain. Pengalaman operasional dan pemahaman terhadap kebutuhan pengguna kini juga menjadi dasar dari pengembangan inisiatif bisnis perusahaan sendiri.
Integritas sebagai Dasar Perubahan
Seiring bertambahnya lokasi dan berkembangnya sistem, tantangan berikutnya adalah menjaga agar kualitas layanan dan standar kerja tetap konsisten, dipantau, dan dievaluasi secara berkala.
Sementara, pembelajaran layanan satu lokasi dapat dibagikan dan diterapkan di lokasi lain. “Proses tersebut perlu diterjemahkan menjadi standar operasional, pelatihan, pengawasan, dan sistem kerja yang dapat dijalankan secara konsisten,” ujar Rustam.
Bagi SPI, integritas menjadi prinsip yang mendasari proses tersebut. Integritas berkaitan dengan pelaksanaan prosedur secara konsisten, akuntabilitas, dan komitmen untuk memberikan layanan sesuai ketentuan yang berlaku. Prinsip inilah yang telah membangun kepercayaan pengguna dan mitra pengelola kawasan.
Memasuki tahun ke-34, perjalanan Secure Parking Indonesia menunjukkan bahwa pengalaman bukan sekadar lamanya perusahaan beroperasi. Nilainya terletak pada kemampuan mengolah pembelajaran, memperkuat sistem kerja, dan menyesuaikan solusi terhadap perubahan kebutuhan. (Siaran Pers Sucure Parking Indonesia, Dikirim Margareth Olivia <margareth.olivia@kiroyan-partners.com>)








