Ratusan Petani Baduy di Pedalaman Lebak Mulai Tanam Padi Huma Serentak
Ratusan petani Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, mulai melaksanakan “ngaseuk” atau menanam padi huma secara serentak di ladang-ladang sesuai kalender adat untuk memenuhi kebutuhan pangan dan pendapatan ekonomi.
”Kami berharap menanam padi huma tumbuh subur dan bisa dipanen April 2027,” kata Tetua Adat Baduy yang juga Kepala Desa Kanekes Kabupaten Lebak Jaro Oom di Lebak, Minggu.
Gerakan penanaman padi huma secara serentak itu dilaksanakan di Tanggungan Anyar Palima dengan melibatkan sekitar 300 petani Baduy .
Masyarakat Baduy melaksanakan “mengaseuk” dengan gotong royong, menjadikannya sebagai budaya untuk saling membantu saat bercocok tanam, mengingat penyelesaian pekerjaan tersebut akan memakan waktu lama jika dilakukan sendiri.
Saat ini, ia mengatakan jumlah penduduk Baduy tercatat 11.620 jiwa dan terdiri dari 5.870 laki-aki dan 5.570 perempuan. Masyarakat Baduy menggantungkan kehidupannya terutama dari sektor pertanian ladang.
Setelah tanam padi huma, menurut dia, masyarakat di sana juga menanam pisang, jagung dan aneka sayuran, termasuk tanaman cabai dan tanaman keras, seperti Albasia.
Penanaman dengan sistem tumpang sari dalam satu kawasan itu bisa memberikan pendapatan ekonomi lebih besar bagi mereka. Usia panen berbagai tanaman tersebut bervariasi ada yang tiga bulan, enam bulan, 12 bulan hingga lima tahun sekali.
”Kami turun temurun menanam padi huma , hortikultura dan palawija di lahan darat tidak menggunakan pupuk kimia,” kata Jaro Oom.
Menurut dia, lahan yang dijadikan gerakan perdana ngaseuk kali ini mencapai 1 hektare dan hanya dikerjakan dalam waktu selama 4 jam.
Para petani menanam padi di awal Oktober 2026 saat mulai turun hujan, sehingga tanaman padi dapat tumbuh subur dan hijau, ujar dia.
”Kami minta petani lainnya bisa melakukan ngaseuk padi huma ditargetkan hingga pertengahan Oktober 2026 semua sudah ditanam,” katanya.
Arman (55), salah seorang petani Baduy mengatakan dirinya kini melakukan ngaseuk secara gotong royong dengan menggunakan batang kayu yang ujungnya runcing untuk melubangi tanah guna memudahkan memasukkan gabah.
Tanaman tersebut, lanjut dia, nantinya dalam sepekan akan mulai tumbuh, dan dalam enam bulan ke depan sudah bisa dipanen.
Menurut Arman, sejak dulu dirinya sudah bercocok tanam padi huma di ladang. Itu merupakan warisan dan amanat leluhur atau tetua adat.
Ia mengatakan selain bercocok tanam padi huma di ladang, dirinya juga menanam palawija serta hortikultura dengan sistem tanam terpadu di satu kawasan.
Selama ini setahun sekali, lanjutnya, petani Baduy bercocok tanam di ladang sesuai dengan ketentuan adat. Penanaman dilakukan secara bergotong-royong dan juga berpindah-pindah.
”Kami menanam padi huma, hortikultura dan palawija menjadikan andalan ketahanan pangan keluarga dan menghasilkan pendapatan ekonomi,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar mengatakan pihaknya mendorong petani Baduy agar dapat meningkatkan produksi pangan sehingga mampu memenuhi ketersediaan pangan dan pendapatan keluarga.
Saat ini, ia mengatakan masyarakat Baduy sudah mampu swasembada pangan karena bisa memenuhi cadangan pangan hingga 50 tahun ke depan melalui rumah pangan atau “Leuit” .
”Kita mengapresiasi hingga saat ini belum ditemukan masyarakat Baduy (mengalami) kerawanan pangan, karena hasil panen padi mereka tidak dijual,” katanya menjelaskan. (Pewarta : Mansyur Suryana – LKBN Antara)









