Produksi Komoditas Jagung di Lebak Capai 2.860 Ton Periode Januari – Oktober
Produksi komoditas jagung di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, periode Januari-Oktober 2026 mencapai 2.860 ton dengan luas panen 520 hektare, sehingga bisa memenuhi permintaan perusahaan pakan ternak.
”Produksi jagung sebanyak 2.860 ton dalam kondisi jagung pipilan itu dapat menggulirkan perputaran uang miliaran rupiah dengan harga Rp6.000 per kilogram,” kata Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Dodi Hermawan di Lebak, Banten, Jumat.
Produksi jagung itu menurun dibandingkan tahun sebelumnya pada periode sama yang mencapai 7.500 ton. Penyebab penurunan produksi jagung hibrida itu, karena musim kemarau panjang El Nino.
Kebanyakan petani itu mengembangkan jagung hibrida di lahan darat, sehingga kesulitan tumbuh subur akibat mengalami kekeringan.
”Kami minta petani di November-Desember 2026 agar memperluas penanaman jagung, karena memasuki musim hujan,” katanya.
Rubai (55), petani di Cibadak Kabupaten Lebak mengatakan pertanian jagung menjadi andalan, karena dengan waktu 100-110 hari setelah tanam bisa dipanen.
Produktivitas jagung hibrida rata-rata 6 ton/hektare dengan harga kondisi kering Rp5.000/kilogram, sehingga jika bisa menghasilkan Rp30 juta.
Dari pendapatan sebesar itu dipotong biaya upah kerja, pupuk dan benih Rp10 juta, sehingga mereka petani bisa meraup keuntungan Rp20 juta/panen/ha.
”Panen jagung di sini mencapai ribuan ton dan ditampung oleh perusahaan peternakan di Balaraja, Tangerang,” katanya.
Sementara itu, Amin (55) petani di Maja, Lebak, mengatakan pertanian jagung memanfaatkan lahan milik BUMN dan perusahaan pengembang properti.
Saat ini, lahan itu dijadikan pengembangan komoditas pertanian jagung. ”Ekonomi keluarga kami terbantu, dari pendapatan bersih Rp20 juta per panen dengan tanam seluas satu hektare,” katanya. (Pewarta : Mansyur Suryana – LKBN Antara)










