Ekonomi

Dinas Pertanian Lebak Ajak Petani Budi Daya Tanaman Palawija Saat Musim Kemarau

Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lebak, Banten, mengajak petani mengembangkan budi daya tanaman palawija ketika musim kemarau sekarang ini guna memenuhi ketersediaan pangan dan juga peningkatan ekonomi.

‎”Pertanian palawija itu tidak memerlukan ketersediaan pasokan air banyak dan cocok dikembangkan pada musim kemarau,” kata Kepala Distan Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar di Lebak, Kamis.

Pengembangan tanaman palawija yang berpotensi dikembangkan di lahan-lahan kering seperti jagung, kedelai, kacang tanah, pisang, singkong, dan umbi-umbian.

Potensi pertanian palawija di daerah itu bisa dikembangkan di lahan sawah dan darat, sehingga dapat mendukung program swasembada pangan.

Selain itu, juga pengembangan palawija menjanjikan peningkatan ekonomi petani, karena permintaan pasar cukup tinggi.

Karena itu, pihaknya menginstruksikan petugas Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Penyuluh untuk mendorong kelompok tani mengembangkan tanaman palawija seiring musim kemarau panjang.

‎”Pertanian palawija menguntungkan, karena masa panen rata-rata 90 hari setelah tanam bisa menghasilkan ekonomi,” katanya menjelaskan.

Menurut Rahmat, tanaman palawija sangat cocok dikembangkan di seluruh wilayah Kabupaten Lebak dan bisa merealisasikan swasembada pangan dan dapat memenuhi permintaan ke luar daerah.

Pihaknya mengapresiasi petani palawija sejak Januari hingga Juli 2026 sudah menghasilkan produksi 1.026 ton terdiri atas jagung sebanyak 2.625 ton, kedelai 18 ton, kacang tanah 32 ton, kacang hijau 2 ton, ubi kayu 829 ton, dan ubi jalar 163 ton.

‎”Kami yakin produksi palawija bisa memenuhi kebutuhan pasar lokal juga perusahaan pakan ternak,” katanya.

Ketua Kelompok Tani Sukabungah Desa Tambakbaya Kabupaten Lebak Ruhiana mengatakan panen jagung hibrida menghasilkan produktivitas rata-rata 7 ton/hektare dengan harga kondisi kering Rp5.000/kilogram, sehingga jika diakumulasikan bisa menghasilkan Rp35 juta.

Dari pendapatan sebesar itu dipotong biaya upah kerja, pupuk dan benih Rp15 juta, sehingga mereka petani bisa meraup keuntungan Rp20 juta/panen.

‎”Kami di sini jika panen jagung ditampung oleh perusahaan peternakan dan juga Bulog,” katanya. (Pewarta : Mansyur Suryana – LKBN Antara)

Iman NR

Back to top button