BMKG: Suara Dentuman Dipastikan Bukan Dari Gunung Anak Krakatau

Badan Metrologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan, suara dentuman yang terdengar dan meresahkan warga Jabodetabek (Jakarta,Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) bukan berasal Gunung Anak Krakatau.

Namun BMKG membenarkan terjadi gempa di Selat Sunda, bersamaaan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau (GA), pukul 22.50-23.00 WIB. Kekuatan gempa 2.4 Magnito (M), kedalaman 13 Km dan jaraknya 70 Km arah barat daya Gunung Anak Krakatau.

Demikian dikemukakan Rahmat Triyono, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami dalam siaran pers BMKG, Sabtu (11/4/2020) yang termuat di aplikasi BMKG. “Berdasarkan data yang ada, maka BMKG memastikan bahwa suara dentuman tersebut tidak bersumber dari aktivitas gempa tektonik,” katanya.

Rahmat Triyono mengemukakan 3 monitoring yang dilakukan BMKG. Monitoring itu adalah tide guide, radar osean wera dan seismik. Ketiga alat monitoring itu bisa memberikan kesimpulan dentuman bukan berasal dari Gunung Anak Krakatau.

Rahmat mengatakan, monitoring tide gauge yang memantau muka laut dipasang di Pantai Kota Agung, Pelabuhan Panjang, Binuangen dan Marina Jambu. Alat tersebut menunjukan, tidak ada keanehan (anomali) mula laut sejak tanggal 10 April 2020, pukul 21.00 WIB hingga 11 April 2020, pukul 06.00 WIB.

Baca:

Hasil Monitoring

Hasil yang sama ditunjukan oleh monitoring dari radar osean wera. Radar itu menunjukan tidak ada keanehan atas permukaan laut dan tidak memicu terjadinya tsunami.

Peristiwa kegempaan tercatat pada sensor yang dipasang pada tahun 2019. Catatan itu lebih lemah dari peristiwa 22 Desember 2018. Waktu itu timbul dugaan peristiwa tsunami berasal dari runtuhnya Gunung Anak Krakatau.

Sensor Seismik itu CGJI di Cigeulis (Banten), WLJI Wanasalam (Banten), PPSM Pematang Sawah Lampung, LLSM Limau Lampung, Kasi Kota Agung Lampung, CSJI Ciracap Jawa Barat dan KLSI Kotabumi Lampung.

Hasil catatan itu menyebutkan terjadi gempa tektonik di Selat Sunda, pukul 22.59 WIB dengan 2,4 M. Pusatnya berada jarak 70 Km arah Selatan Baratdaya Gunung Anak Kratau. Sedangkan kedalaman pusat gempa 13 Km.

“Terkait suara dentuman yang terdengar dan membuat resah masyarakat Jabodetabek, hasil monitoring menunjukan tidak terjadi aktivitas gempa yang kekuatannya signifikan di Jawa Barat, DKI Jarta dan Banten. Ada gempa 2,4 M yang kekuatannya tidak akan dirasakan oleh masyarakat,” katanya.

Berdasarkan data tersebut, BMKG memastikan suara dentuman tersebut tidak bersumber dari aktivitas gempa tektonik. (Siaran Pers BMKG / IN Rosyadi)

Next Post

Pasien Positif Covid 19 di Banten Terus Bertambah, Tercatat 176 Pasien

Sab Apr 11 , 2020
Jumlah pasien positif covid 19 di Banten terus bertambah. Hingga Sabtu (11/4/2020), jumlah pasien terkonfirmasi atau posifit tercatat 176 pasien. Perinciannya 25 orang meninggal, 13 sembuh dan 138 pasien dirawat. Demikian data yang termuat di web infocorona.bantenprov.go.id, Sabtu (11/4/2020), pukul 18.00 WIB. Web ini merupakan web resmi dari Gugus Tugas […]
update positif covid 19 banten