Ekonomi

Pertalite “Hilang”, Sebagian Warga Labuan Terpaksa Beli Pertamax Rp16.250/Liter

Sebagian warga Labuan, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten mulai mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite, mengakibatkan warga terpaksa membeli BBM Non Subsidi yang harganya sudah melonjak tinggi, Minggu (14/6/2026).

Meski harganya lebih tinggi, masyarakat mengaku tidak memiliki pilihan lain, karena kendaraan tetap dibutuhkan untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Salah satu lokasi yang mengalami kekosongan persediaan Pertalite adalah SPBU Pertamina 34.422.03 Labuan di Jalan Jendral Sudirman, Labuan, Kabupaten Pandeglang.

Pantauan di lokasi, menunjukkan antrean kendaraan cukup panjang di jalur pengisian Pertamax, dengan mayoritas pengendara sepeda motor yang sebelumnya biasa menggunakan BBM subsidi.

Para pengendara mengaku, stok Pertalite di SPBU Labuan telah habis sejak pagi hari. Kondisi tersebut, memaksa mereka membeli Pertamax agar tetap bisa menjalankan aktivitas, seperti bekerja, berdagang, hingga mengantar anak ke sekolah.

“Biasanya saya isi Pertalite karena lebih murah. Tapi tadi, petugas bilang stoknya sudah habis sejak pagi, jadi terpaksa beli Pertamax sekarang kan harganya pindah dari Rp12.300 per liter jadi Rp16.250 per liter. Mau tidak mau, motor dipakai untuk bekerja setiap hari,” kata seorang warga ditemui di SPBU.

Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, yang mengaku pengeluaran untuk membeli BBM meningkat akibat kelangkaan Pertalite di Pandeglang.

Menurutnya, penggunaan Pertamax cukup memberatkan, terutama bagi masyarakat yang selama ini bergantung pada BBM bersubsidi.

“Kalau harus terus beli Pertamax tentu terasa berat. Kami berharap, stok Pertalite segera tersedia lagi supaya tidak menambah beban pengeluaran,” ujarnya.

Sementara itu, pihak SPBU Labuan ketika dikonfirmasi, belum memberikan penjelasan apapun.

Kelangkaan Pertalite di sejumlah SPBU di Pandeglang ini, diharapkan segera mendapat penanganan, sehingga distribusi BBM subsidi kembali normal dan kebutuhan masyarakat terhadap bahan bakar dapat terpenuhi tanpa harus beralih ke BBM non-subsidi dengan harga yang lebih mahal. (Penulis : Daeng Yusvin)

Yusvin Karuyan

Back to top button