Setahun Tsunami, Pariwisata Anyer-Carita Tak Kunjung Bangkit

Setahun sudah tsunami menimpa daerah Anyer-Carita dan sekitarnya, pariwisata daerah ini masih terpuruk dan kesulitan untuk bangkit.

Tsunami Banten itu terjadi pada 22 Desember 2018. Tsunami yang diduga berasal dari runtuhnya Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda itu meluluhlantakan daerah sepanjang pantai Selat Sunda hingga Banten Selatan.

Akibat tsunami hingga kini masih dirasakan. Ini ditandai anjoknya pengunjung wisata pantai, tingkat hunian hotel yang rendah dan menyebabkan sejumlah hotel gulung tikar. Bahkan, toko oleh-oleh khas Anyer pernah hanya membawa uang Rp2.000.

Away, pemilik Toko Oleh-Oleh Khas Anyer mengatakan, pengunjung wisata di daerah Anyer-Carita belum normal sepenuhnya. Sebelum tsunami, toko ini menjual aneka oleh-oleh termasuk hasil usaha mikro kecil menengah dari Serang dengan omzet sekita Rp100 juta per pekan. Jumlah bus yabg mampir ke tempat ini 80-100 bus.

Baca:

Sudah Lumayan

“Sekarang mah dapat Rp 40 juta sudah lumayan untung, sekarang kunjungan ada lah 30 bus,” kata Away saat berbincang di Anyer, Serang, Banten, Minggu (22/12/2019).

Villa Stephanie di Jl Carita-Labuan, Pandeglang jadi salah satu penginapan yang paling parah terdampak tsunami Selat Sunda. Di penginapan ini, puluhan orang tewas akibat longsoran Anak Krakatau pada tahun lalu.

Saat ini penginapan tersebut ditutup dan tak ada jejak akivitas warga dan wisatawan. Sesekali orang hanya melintas dan mengabaikan vila yang terpampang spanduk besar bertuliskan ‘DIJUAL CEPAT‘.

Sepinya pengunjung yang berwisata juga membuat perhotelan di pesisir pantai harus merumahkan karyawan. Bahkan, ada yang kesulitan membayar listrik dan pajak ke pemerintah daerah, termasuk hotel berbintang, Marbella Anyer.

Yayan Juhendar, Food and Baverage Manajer Marbella Anyer menuturkan, pihaknya merumahkan sebagian karyawan setelah tsunami pada Februari sampai Juli 2019. Perusahaan menerapkan sistem kerja 15 hari dengan upah setengah.

Ini juga dialami sebagian besar hotel di sepanjang Anyer. Bahkan, ada yang merumahkan dan kemungkinan tak mempekerjakan karyawannya lagi.

“Setengah-setengah gantian kerja, 15 hari kerja. Karena nggak recovery, nggak ada uang, gaji setengah, kerja hanya setengah bulan,” kata Yayan.

Karena okupansi sedikit, hotelnya juga sempat kesulitan membayar gaji karyawan, listrik, dan pajak. Manajemen pernah meminta keringanan pada pemerintah atas masalah ini termasuk soal pajak.

“Karena okupansi segini (sediki), makanya di sana ada tulisan pajak, karena buat gaji karyawan susah, paling setengah dulu, repot,” tambahnya.

Aston Hotel Anyer juga sempat melakukan hal serupa. Begitu tsunami melanda pada Desember, 60 persen karyawan dirumahkan dengan perjanjian akan kembali bekerja saat situasi berjalan normal.

Akhirnya, pada Juni pihak hotel kembali mempekerjakan mereka. Namun, meski kondisi kembali normal dan okupansi telah stabil, penghasilan per tahun dirasa berkurang dibanding sebelum tsunami.

“Pasti ada perbedaan (pemasukan). Secara revenue belum, secara okupansi normal,” papar Stephanie Ginta Syahputri, Seles Marketing Manager Aston. (Rivai)

Berita Terkait