Paska Tsunami Selat Sunda, Gunung Anak Krakatau Alami Satu Gempa Tektonik Lokal

Paska tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018, Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda mengalami satu kali gempa tektonik lokal. Status gunung ini tetap pada level III atau siaga. Karena itu, masyarakat, termasuk wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius lima kilomter dari kawah Gunung Anak Krakatau (GAK).

Imbauan itu tercantum dalam siaran pers yang dilansir antaranews.com dari PVMBG Badan Geologi Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral di Bantarlampung yang bersumber dari laporan aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Gunung Anak Krakatau paska tsunami tercatat mengalami satu kali kegempaan tekntonik lokal. Hal itu terjadi sepanjang Jumat (11/1/2019) siang hingga malam.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), di Bandarlampung, Jumat malam, menyebutkan berdasarkan laporan aktivitas Gunung Anak Krakatau disampaikan oleh Deny Mardiono dari Kementerian ESDM, Badan Geologi, PVMBG Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau periode pengamatan 11 Januari 2019, pukul 12.00 sampai dengan 18.00 WIB. Kondisi ini menunjukkan adanya aktivitas kegempaan tektonik lokal sebanyak satu kali, amplitudo 10 mm, S-P 6 detik, durasi 20 detik.

Baca: Tanggap Bencana Tsunami Ditutup, Gubernur Banten Cek Ulang Penanganan Korban

Secara visual gunung berkabut 0-III. Asap kawah tidak teramati. Gunung api di dalam laut dengan ketinggian saat ini 110 meter dari permukaan laut (mdpl) — dari sebelumnya 338 mdpl — tersebut sepanjang pengamatan cuaca cerah. Angin bertiup lemah ke arah timur. Suhu udara 29 hingga 30 derajat Celsius, kelembaban udara 0 persen, dan tekanan udara 0 mmHg.

Kesimpulannya tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau Level III (Siaga). Sehingga masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius lima kilometer dari kawah. (IN Rosyadi)

Berita Terkait