BMKG: Cabut Status Tsunami, BNPB: Gempa Tewaskan 2 Orang dan 200 Bangunan Rusak

kepala bnpb ke pandeglang

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan peringatan dini potensi tsunami paska gempa 7,4 Skala Richter (SR) di Sumur, Kabupaten Pandeglang telah berakhir. Pernyataan itu dituangkan dalam twit dalam akun @infoBMKG pada pukul 21.40, Jumat (2/8/2019).

Guncangan gempa itu membuat panik warga mulai dari Pandeglang, Labuan, Serang, Jakarta hingga ke Jawa Barat. Pada malam itu, warga mengungsi dan laporan tentang kerusakan rumah, bangunan ibadah dan bangunan lainnya mulai diterima MediaBanten.Com, Sabtu (3/8/2019). Laporan itu baru secara partial atau sepotong-sepotong.

Kusmayadi, selaku Plt Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banten tidak menjawab pesan yang dikirim MediaBanten.Com ke nomor WA-nya. Hingga pukul 12.00 WIB, pesan WA itu masih belum dibaca.

Baca:

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut ada 2 orang tewas akibat gempa yang terjadi di Banten. Selain itu, BNPB juga menyebut ada 200 bangunan yang rusak akibat gempa.

“Kerusakan yang ditimbulkan, kita monitor jam ke jam mengalami peningkatan. Hari ini jumlah terdapat mencapai 200 bangunan, baik rusak berat, ringan dan sedang. Sejauh ini 2 orang meninggal dunia,” kata Kepala BNPB Letjen Doni Monardo di Mandalawangi, Pandeglang, Banten, Sabtu (3/7/2019).

Dia menyebut dua korban meninggal dunia itu tidak langsung disebabkan oleh gempa. Korban disebut meninggal akibat serangan jantung dan kelelahan. Doni menjelaskan sebagian masyarakat yang sempat mengungsi sudah kembali ke rumah masih-masing. Termasuk 1.000 warga di Lampung yang mengungsi pascagempa.

“Di Banten semalam ada, tapi semua sudah kembali ke rumah masing-masing. Alhamdulillah tidak ada pengungsi. Di Lampung ada 1.000 orang tapi pagi ini sebagaian besar sudah pulang,” ujarnya. (Bachtiar Rifai Detik / IN Rosyadi)

IN Rosyadi

Jurnalis at MediaBanten.Com
Menjadi wartawan sejak tahun 1984 pada Harian Umum (HU) Kompas, kemudian mengundurkan diri pada Agustus 1999 dan menjadi wartawan harian sore Sinar Harapan pada tahun 2001 hingga tahun 2015, saat koran sore ini bangkrut. Pengalaman ini memadai untuk menjadi seorang editor yang mumpuni.

Berita Terkait