Soal PKS Sampah Tangsel, Warga Sebut Penjelasan Pemkot Serang Berbelit-belit
Kekecewaan mendalam kembali menyelimuti warga Kecamatan Taktakan, Kota Serang. Rencana pengelolaan sampah Tangsel di TPAS Cilowong yang diharapkan membawa solusi, justru dinilai warga sebagai pengulangan dan merugikan bagi warga.
Mereka menuding Pemerintah Kota Serang tidak transparan dan gagal memberikan jawaban konkret atas kekhawatiran masyarakat, terutama terkait dampak lingkungan berupa ceceran air lindi, dan aroma menyengat dari aktivitas angkutan sampah yang melintas.
Sumardi, warga Kelurahan Taktakan, mengungkapkan bahwa pertemuan dengan pihak Pemkot Serang hingga saat ini belum membuahkan hasil yang memuaskan. Alih-alih mendapatkan jaminan, warga justru merasa hanya diberi penjelasan yang berbelit-belit.
Intinya masyarakat itu menolak (MOU Sampah Tangsel, Pemkab Serang dan Pemkot Serang-red). Tapi tetap saja isinya itu diputar-putarin. Pokoknya capek deh,” ujar Sumardi yang juga tokoh pemuda setempat dengan nada kecewa. RABU (14/01/2026).
Menurutnya, penolakan warga didasari oleh pengalaman buruk tahun-tahun sebelumnya yang terus berulang. Bau menyengat dari aktivitas pengangkutan sampah dari Tangsel ke TPAS Cilowong berupa ceceran air lindi di sepanjang jalan menjadi persoalan utama yang hingga kini tidak terselesaikan oleh pemerintah setempat.
“Saat ini angkutan sampah milik Tangsel memang cenderung lebih baik dari milik Pemkot Serang dan Kabupaten Serang. Tetapi tetap saja, air lindinya berceceran. Seharusnya kendaraan kita dan kabupaten serang juga diremajakan. Dari kendaraan mereka itu, selain air lindi tumpah juga ga sedikit tikus lompat karena berlubang,” tuturnya.
Senada ditambahkan tokoh masyarakat setempat, Ustad Sudirman. Yang paling disesalkan warga adalah buruknya teknis pengangkutan sampah yang menyebabkan air lindi (cairan sampah) berceceran di jalanan pemukiman. Kondisi ini membuat warga merasa harus menjadi “polisi” di wilayah mereka sendiri.
“Kami kecewa, apakah kita tiap malam harus mengawasi? Kan tidak mungkin. Selama ini tidak ada jawaban siapa masyarakat yang menyetujui kebijakan ini,” tegasnya.
Warga juga menyayangkan sikap pemerintah yang dianggap menutup diri. Hingga keputusan diambil, masyarakat mengaku tidak pernah dilibatkan dalam sosialisasi yang jujur dan terbuka. Situasi ini dinilai sama persis dengan kejadian tahun lalu, di mana aspirasi warga hanya dianggap angin lalu.
“Sekarang itu kan muter-muter, tidak ada kepastian. Hasilnya kecewa. Ini sama saja seperti tahun kemarin,” tutupnya.
Sementara sebelumnya, sampah Tangsel hampir seminggu ini sudah dibuang kembali ke TPAS Cilowong, setelah sebelumnya dihentikan sementara.
Pemerintah Kota Serang mengatakan sudah menerima kembali sampah dari Kota Tangerang Selatan (Tangsel) ke Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Cilowong. 10 truk setiap harinya.
Farach Richi mengatakan penghentian sementara pengiriman sampah dari Tangsel hanya berlangsung dua hari. Setelah itu, ada perbaikan dan pengiriman dilanjutkan sesuai dengan perjanjian kerja sama (PKS).
“Dua hari dihentikan, kemudian pembenahan, selesai, maka dilanjutkan.Proses itu kan berkelanjutan, tidak bisa kayak makan cabai rawit, langsung selesai. Memang sudah dilakukan perbaikan, seperti bak lindi diperbarui,” tandasnya.
Soal protes dari masyarakat beberapa waktu lalu saat audiensi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Serang menyebut hal tersebut sebagai upaya menjaring masukan. Dan saat ini sudah ada evaluasi serta perbaikan sehingga pengiriman sampah dilanjutkan.
“Masukan masyarakat kemaren saat audensi adalah masukan bagi kami, kita lakukan pembenahan-pembenahan,” kata Farach. (BW Iskandar)










