EkonomiHeadline

Kerusakan Tanaman Padi Akibat Kekeringan Di Banten Capai 2.420 Hektar, Termasuk Puso 185 Hektar

Kerusakan tanaman padi akibat kekeringan di Provinsi Banten musim tanam (MT) 2026 hingga 3 Agustus seluas 2.420 hektar dengan kategori ringan seluas 1.375 hektar, sedang 535 hektar, berat 325 hektar hingga puso 185 hektar.

Sekretaris Dinas Pertanian Provinsi Bantenn, Saipul Bahri Maimun yang dihubungi MediaBanten.Com, Jumat (7/8/2026) membenarkan kerusakan tanaman padi akibat kekerangan tersebut.

“Jika tidak ada hujan dan tidak ada penangangan mengatasi kekeringan tersebut, maak kemungkinan luas tanaman padi yang puso akan bertambah,” kata Saipul Bahri.

Hingga 3 Agustus 2026, luas kerukanan tanaman padi akibat kekeringan dapat dipulihkan seluas 263 hektar karena dilakukan pompanisasi dan melakukan perbaikan irigasi desa agar bisa meengairi sawah yang dilanda kekeringan tersebut serta ada hujan yang turun.

Periode itu juga tercatat 730 hektar sawah dipanen lebih awal agar bisa diselamat dari kekeringan. Dan yang kini terancam seluas 815 hektar.

Sekdis Pertanian Provinsi Banten, Saipul Bahri Maimun merinci, ekeringan terjadi di 56 Kecamatan (144 Desa/Kelurahan) di 4 Kabupaten dan 1 Kota dengan rincian:

1. Kabupaten Pandeglang terjadi di 17 Kecamatan (37 Desa) seluas 808 hektar (Puso 3 Ha, Pulih 5 Ha, Panen 590 Ha dan Terancam 349 Ha).

2. Kabupaten Lebak terjadi di 10 Kecamatan (23 Desa) seluas 315 Ha (Pulih 14 Ha dan Terancam 2 Ha).

3. Kabupaten Serang terjadi di 11 Kecamatan (46 Desa) seluas 969 Ha (Puso : 133 Ha, Pulih 234, Panen 99 Ha dan Terancam 464 Ha).

4. Kabupaten Tangerang terjadi di 15 Kecamatan (29 Desa) seluas 291 Ha (Puso : 49 Ha, Pulih 2 Ha dan Panen 41 Ha).

5. Kota Serang terjadi di 3 Kecamatan (7 Kelurahan) seluas 37 Ha (Pulih 8 Ha).

Sekdis Pertanian Banten mengemukakan, hasil monitoring dan pengamatan POPT mengenai penyebab terjadinya kekeringan dan keadaan sumber air di wilayah-wilayah yang terkena kekeringan adalah sebagai berikut :

1. Tidak ada hujan dalam beberapa hari/minggu.

2. Tidak ada sumber air (sebagian ada yang sawah tadah hujan).

3. Terdapat sumber air tetapi sudah mulai mengering.

4. Terdapat sumber air tetapi jauh dari lokasi kejadian kekeringan sehingga kesulitan dalam pompanisasi.

“Dinas Pertaian Provinsi Banten melakukan koordinasi tingkat lapangan dengan petugas dan instansi terkait akan ditingkatkan untuk mengurangi dampak kekeringan yang terjadi,” katanya.

Koordinasi dengan perbenihan mengenai stok benih untuk mengantisipasi lokasi yang terkena Puso akan terus dilakukan dan sudah ada laporan pengajuan bantuan benih di Kecamatan Jawilan dan Kopo Kabupaten Serang. (IN Rosyadi)

Iman NR

Back to top button