Dimakamkan Massal, 25 dari 27 Jenazah Korban Kecelakaan Maut Tanjakan Emeng

Foto: antaranews

Sebanyak 25 dari total 27 jenazah korban kecelakaan maut di Tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat, dimakamkan secara massal di Taman Makam Kampung Legoso, Pisangan Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Minggu (11/2/2018).

Menurut Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan Suhara Manulang, 25 dari total 27 korban adalah warga Tangerang Selatan, sedangkan dua lainnya adalah warga Karawang dan Depok.Banyak masyarakat yang menyaksikan pemakaman ini. Sementara itu keluarga korban tidak mampu membendung tangis mereka, bahkan ada yang pingsan.

Ambulan pengangkut jenazah antri satu persatu ke pemakaman karena pemakaman dipenuhi oleh masyarakat dan pelayat. Masyarakat menuliskan nama jenazah di nisan korban kecelakaan maut di Tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat, memasuki Taman Makam Kampung Legoso, Pisangan Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Minggu. Jenazah satu per satu mulai dimasukkan ke dalam liang lahat.

Anggota keluarga menangis sangat mengantar korban. Bahkan salah seorang anggota keluarga pingsan. Untuk mengeruk dan menutup lubang kubur menggunakan alat berat. Setetelah pemakaman, para kerabat menaburkan bunga di atas makam.

Kasubdit Laka Dit Gakkum Korlantas Polri, Kombes Pol Joko Rudi menduga penyebab kecelakaan bus pariwisata di Tanjakan Emen, Subang, adalah akibat malfungsi pada sistem rem. “Itu untuk pengecatan bekas rem tapal batas pengereman itu sebagai bukti stasioner yang melekat di jalan atas ban akibat adanya upaya supir untuk melakukan penghentian kendaraan. Bisa dipastikan berarti upaya-upaya (pengereman) itu bisa dilakukan sekian lama,” ujar Joko di sela-sela olah TKP, Minggu (11/2/2018).

Joko menjelaskan, berdasarkan analisis sementara, ada beberapa titik yang memperlihatkan bus mencoba menghentikan kendaraan sebelum akhirnya terguling. “Dengan batasan itu berarti yang bersangkutan (sopir) ada upaya pengereman itu yang menjadi permasalahan kecelakaan,” kata Joko.

Selain itu, lokasi kecelakaan terletak pada titik terakhir Tanjakan Emen. Dari titik awal tanjakan yang berada setelah tempat wisata Gunung Tangkuban Perahu hingga titik kecelakaan, memiliki panjang 2,4 kilometer. Diduga, fungsi rem tidak berjalan dengan baik akibat penggunaan yang terus menerus. Hingga akhirnya pada titik terakhir Tanjakan Emen, laju bus tidak bisa terkendali dan terguling setelah menabrak sepeda motor.

“Nah inget mobil solar itu rem didorong oleh minyak yang minyak itu didorong oleh turbin atau angin dan fungsi rem masih berbentuk kanvas rem, masih tromol. Apabila dalam pengereman ia terlalu cepat dan sering, mungkin akan panas sehingga barang apa pun ketika panas akan memuai dan tidak berfungsi,” papar Joko.

Namun dugaan ini, kata dia, hanya sementara karena hasil lenglap baru diketahui melalui proses olah TKP dengan menggunakan sistem pemindaian kamera laser tiga dimensi (3D). Melalui teknologi ini akan diketahui pula gambaran analisis prakecelakaan, saat kecelakaan, dan pascakecelakaan.

“Kesimpulan sementara bahwa kecelakaan adanya Out of Control atau lepas kendali dari pihak bus dalam hal turunan jalan. Out of Control banyak sebabnya mungkin dari aspek manusia bisa kendaraan, bisa alam bisa kontur jalan bisa penyebab lain mungkin cuaca, remnya bocor, dan lain sebagainya,” kata Joko. (antaranews.com)

Berita Terkait