Komisi VII DPR Tegur Pengaburan Nama Pahlawan Demi Branding di Bandara Soetta
Anggota Komisi VII DPR RI Putra Nababan mendesak perusahaan BUMN Injourney untuk tidak melakukan branding berlebihan di berbagai bandara yang mengakibatkan ciri atau identitas asli bandara berupa nama – nama pahlawan menjadi kabur, seperti yang terjadi di Bandara Soetta atau Soekarno-Hatta.
“Seperti di Bandara Soekarno-Hatta ini, saya melihat banyak sekali tulisan InJourney Airports. Saya bahkan kesulitan mencari tulisan Bandara Soekarno-Hatta yang akhirnya saya dapati di tempat sampah terminal 3 gate 5,” kata Putra saat rapat kunjungan kerja spesifik Komisi VII DPR dengan InJourney dan Kementerian Pariwisata di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (15/1/2026).
Menurut dia, branding nama InJourney Airports yang berlebihan juga terjadi di banyak bandara lain, seperti Bandara Ahmad Yani Semarang dan Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali.
“Saya meminta agar InJourney Airports tidak mengaburkan identitas dari seluruh airport di Indonesia yang nama-namanya diambil dari nama pahlawan nasional kita,” katanya.
Jika InJourney ingin melakukan promosi branding, menurut dia, maka harus tetap melibatkan nama asli bandara tersebut.
Misalnya, Putra mengusulkan agar promosinya diganti dengan “Bandara International Soekarno Hatta managed by InJourney” atau “Operated by InJourney”.
“Dengan model ini maka identitas bandara tidak dikaburkan atau bahkan dihilangkan,” katanya.
Menurut dia, nama-nama pahlawan nasional, seperti Sam Ratulangi di Manado, Tjilik Riwut di Palangka Raya, Hang Nadim di Batam, dan Fatmawati Soekarno di Bengkulu, justru menjadi bahan obrolan sejarah menarik para penumpang, terutama para generasi muda untuk mengetahui jati diri para pahlawan nasional.
“Saya berkali-kali memanfaatkan momentum nama bandara ini untuk menjelaskan ke anak-anak tentang identitas para pahlawan nasional yang namanya dijadikan nama bandara. Jangan dong sekarang tulisan InJourney Airports jauh lebih banyak dari nama pahlawan nasional,” kata Putra Nababan.
Sebelumnya, Komisi VII DPR RI menyoroti persoalan banjir yang melanda kawasan Bandara Soetta atau Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Senin (12/1) yang telah mengakibatkan gangguan terhadap aktivitas penumpang dan konektivitas penerbangan (Baca: Banjir Bandara Soetta Disoroti Komisi VII DPR RI, Ganggu Konektivitas Penerbangan).
“Beberapa hari yang lalu Bandara Soetta itu sempat kebanjiran. Saya waktu itu sedang di Semarang, seharusnya pesawat saya dari Semarang menuju Jakarta itu sampai jam tiga. Tetapi saya harus berangkat jam sembilan malam. Jadi kondisi seperti ini kita tidak mau berulang,” kata Ketua Tim Kunjungan Spesifik Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga di Tangerang, Kamis (15/1/2026).
Dalam kesempatan kunjungan kerja DPR RI terkait perhubungan dan pariwisata ke PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airpots), Lamhot mengatakan banjir pada beberapa titik menuju terminal Bandara Soetta bakal berdampak pada potensi penurunan jumlah wisatawan di Indonesia. (Oleh Bagus Ahmad Rizaldi – LKBN Antara)



