“Kerbau Purba” di Banten Girang

lukisan kerbau di Banten Girang

Kerbau Dalam Tradisi Banten (2)

Oleh: Moh Ali Fadillah

Dari sudut pandang etno-historis, boleh dibilang kerbau merupakan salah satu hewan terpenting dalam kebudayaan Nusantara. Perannya cukup penting dalam kehidupan masyarakat,sedini masa nirleka hingga Millenium Ketiga sekarang ini.

Dalam berbagai penelitian arkeologi di Indonesia pernah ditemukan beberapa fragmen fosil yang mengindikasikan kerangka kerbau. Tercatat diantaranya berupa gigi, fragmen iga dan kaki kerbau bersama fosil hewan lain terasosiasi dengan perkakas pertanian seperti kapak batu dan fragmen tengkorak manusia di situs prasejarah Patiayam, Kudus dan Blora di tepian Bengawan Solo, Jawa Tengah (1979 dan 2007).

Moh Ali Fadillah

Dari laporan riset arkeologis itu, Siswanto pernah mengungkapkan bahwa fragmen tulang kerbau purba (Bubalus Paleokarabau) itu diperkirakan berasal dari umur geologi antara 700.000 hingga 1 juta tahun yang lalu.

Jejak kerangka hewan bernama latin Bubalus bubalis ini ternyata ditemukan pula di Pulau Sumatera. Situs-situs yang mengandung temuan tulang kerbau antara lain Gua Togindrawa, Nias dan Bukit Kerang Pangkalan, Aceh Tamiang. Fragmen tulang kerbau yang ditemukan terasosiasi dengan alat batu dari fase mesolitik tersebut, menurut Susilowati dalam artikelnya “Kerbau pada etnik Batak” menunjukkan adanya jejak awal domestikasi kerbau dan pola makan manusia prasejarah, di mana kerbau merupakan salah satu hewan yang dikonsumsi manusia.

Baca:

Tulang Kerbau

Pada periode lebih muda, tulang kerbau masih ditemukan, terutama di situs berciri budaya megalitik yang terkonsentrasi pada kubur batu (phandusa) di Bondowoso, Jawa Timur. Sedangkan temuan dari situs Telagamukmin, Lampung Utara terasosiasi dengan dolmen (sejenis kubur batu) dan pada penggalian arkeologi di daerah Wonogiri ditemukan pula tulang kerbau terletak di bawah menhir (batu tegak).

Beberapa relik kerbau yang dipahat baik berbentuk patung, relief maupun lukisan di berbagai kompleks megalitik di Sumatera Selatan menjelaskan asosiasi kuat kerbau dan manusia, yang akhirnya mengarahkan pakar Prasejarah Prof. R.P. Soejono (1990), pada penafsiran bahwa kerbau merupakan salah satu binatang suci yang terkait dengan konsepsi pemujaan nenek moyang (ancestor worship).

Tipe “pemujaan” kerbau dari tradisi megalitik itu rupanya berlanjut sampai masaperkembangan Hindu – Buddha, sebagaimana buktinya ditemukan pada arca kepala dan pahatan kepala kerbau yang merupakan ornamen sarkofagus (kubur batu) di situs Munduk Tumpeng, Bali yang oleh Fadhila Arifin Aziz (1999), pakar arkeologi Indonesia, dikaitkan dengan lambang kesuburan dan kendaraan arwah.

Sementara itu, di daerah Banten pernah ditemukan fragmen tulang kerbau dalam musim ekskavasi arkeologi di situs Banten Girang. Dalam laporan penelitian Perancis-Indonesia (Claude Guillot, 1994) dinyatakan fragmen tulang bovidae itu terasosiasi dengan pecahan keramik China dari periode Dinasti Tang, Song dan Yuan (abad IX – XIV Masehi).

Seperti kita ketahui, sejak pertengahan pertama abad X sampai dengan awal abad XVI, situs Banten Girang pernah memainkan peran sebagai ibukota kerajaan bercorak Hindu yang dipusatkan di bagian hulu sungai Cibanten sebelum berdirinya Kesultanan Banten pada awal abad XVI di muara Cibanten. Temuan tulang kerbau membuktikan pentingnya keberadaan kerbau dalam kehidupan masyarakat urban di hulu Cibanten sedini abadX Masehi.

Maka secara arkeologis telah terbukti bahwa hubungan manusia dan kerbau di Indonesia sudah berlangsung sejak masa prasejarah hingga periode Hindu-Buddha. Namun tapak pertama munculnya persepsi masyarakat tentang kerbau baru berkembang setelah dikenalnya sistem religi pada periode akhir prasejarah, ketika manusia mengalami apa yang disebut cultural revolution, yaitu transformasi budaya dari food gathering (pengumpul makanan)ke food producing(pengolah makanan), di mana manusia memulai hidup sedenter setelah cukup lama nomaden. (Bersambung)

IN Rosyadi

Jurnalis at MediaBanten.Com
Menjadi wartawan sejak tahun 1984 pada Harian Umum (HU) Kompas, kemudian mengundurkan diri pada Agustus 1999 dan menjadi wartawan harian sore Sinar Harapan pada tahun 2001 hingga tahun 2015, saat koran sore ini bangkrut. Pengalaman ini memadai untuk menjadi seorang editor yang mumpuni.

Berita Terkait