Mbok Jumi, Pemungut Sampah Plastik Di Pantai Muara Lebak

Foto: Sofi Mahalali

Sampah berserakan di pantai Muara, Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak. Sampah yang berasal dari pengunjung pantai maupun terdampar karena terbawa arus laut, membuat kotor pantai tersebut. Tak ada petugas yang menangani penumpukan samap tersebut, dibiarkan begitu saja.

Namun Mbok Jumi, wanita yang umurnya diperkirakan sudah tidak muda lagi rajin mendatangi sampah-sampah yang bertumpuk di pinggir pantai tersebut. Wanita asal Kampung Alas Roban, Desa muara Kecamatna Wanasalam memungut sampah dan memilahnya untuk dimasukan ke dalam karung. Setelah penuh, sampah itu dikumpulkan di suatu tempat di Pantai Muara, kemudian kembali mengais-kais sampah.

Tidak setiap hari, Mbok Jumi memanfaatkan sampah yang berserakan tersebut. Tidak semua sampah pula ia kumpulkan. Hanya sampah jenis plastik yang dapat dijual saja, yang biasanya ia kumpulkan. Mbok mengatakan, sampah jenis plastik itu dijual ke pengepul.

“Engga setiap hari, saya nyari sampah plastik ketika sesudah air laut pasang,” katanya seraya kembali memungut sampah plastik, belum lama ini,” katanya.

Baca: Gunung Anak Krakatau Tercatat Alami 236 Kegempaan dan Letusan

Tidak terlalu banyak memang sampah plastik yang dapat ia kumpulkan, karena hanya separuh waktu saja ia mengumpulkan sampah tersebut. Mbok Jumi menuturkan, ia biasanya paling hanya dapat mengpulkan sampah plastik sekitar 2-5 Kg untuk dijual kembali ke pengepul.

“Paling saya mengumpulkan sampah gak banyak, 2 karung ini paling 2 sampai 3 Kilogram saja. Namun rata-rata kalau mungutbsampah disini ya kisaran 2 samapi 5 Kilogram. Itu juga kalau kondisi laut sesudah pasang” ungkapnya.

Tanpa disadari, Mbok Jumi telah mengurangi beban sampah plastik yang kini mulai menjadi persoalan bagi lingkungan dunia. Sifat-sifat bahan plastik inilah yang membuatnya sulit tergantikan dengan bahan lainnya untuk berbagai aplikasi khususnya dalam kehidupan sehari-hari mulai dari kemasan makanan, alat-alat rumah tangga, mainan anak, elektronik sampai dengan komponen otomotif.

Peningkatan penggunaan bahan plastik ini mengakibatkan peningkatan produksi sampah plastik dari tahun ke tahun. Sebagai gambaran konsumsi plastik di Indonesia mencapai 10 kg perkapita pertahun, sehingga dapat diprediksikan sebesar itulah sampah plastik yang dihasilkan.

Plastik sangat sulit terurai dalam tanah, membutuhkan waktu bertahun-tahun dan ini akan menimbulkan permasalahan tersendiri dalam penanganannya. Pembuangan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah atau di pinggir pantai bukanlah solusi yang cukup bijak dalam pengelolaan sampah plastik ini. Peranan para pemulung dalam mengurangi timbunan sampah plastik patut mendapat apresiasi meskipun ini tidak bisa menghilangkan seratus persen sampah plastik yang ada.

Perlu adanya manajemen sampah plastik mulai dari lingkungan terkecil yaitu rumah tangga hingga skala besar meliputi kawasan kota yang dikelola oleh pemerintah kota atau daerah setempat. Untuk memudahkan pengelolaan sampah plastik pada skala rumah tangga, maka perlu adanya pemahaman tentang jenis-jenis plastik, kandungan materialnya, hingga dampaknya terhadap lingkungan sehingga diharapkan terbentuk manajemen pengelolaan yang tepat. (Sofi Mahalali)

Berita Terkait