OJK: Investor Saham di Banten Lampaui 1 Juta Orang
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Banten mencatatkan pertumbuhan signifikan pada sektor pasar modal di wilayah tersebut, dengan jumlah investor saham yang telah melampaui angka satu juta orang hingga posisi Desember 2025.
Asisten Direktur Pengawasan OJK Banten, Afif Al Farisi di Serang, Rabu (18/2/2026) menjelaskan bahwa kenaikan jumlah pemodal ini terlihat dari total Single Investor Identification (SID) yang tercatat secara resmi. Menurutnya, tren positif ini tidak hanya terjadi pada instrumen saham semata, melainkan juga merambah ke sektor reksa dana yang menunjukkan pertumbuhan serupa.
“Per Desember 2025, jumlah investor kita tumbuh menjadi lebih dari satu juta SID untuk instrumen saham. Begitu juga dengan reksa dana yang menunjukkan tren kenaikan berdasarkan data yang tercatat pada saat registrasi,” ujar Afif.
Kenaikan jumlah investor ini dinilai berbanding lurus dengan peningkatan nilai transaksi di pasar modal secara keseluruhan.
Afif menambahkan bahwa fenomena ini menjadi indikator kuat bahwa tingkat literasi serta partisipasi masyarakat Banten dalam ekosistem investasi modern sudah semakin matang dan merata di berbagai wilayah.
Ia juga menggarisbawahi mengenai teknis pendataan investor, di mana warga yang berdomisili di Provinsi Banten tetap tercatat sebagai kontributor daerah meskipun melakukan aktivitas transaksi di luar wilayah. Hal ini memastikan bahwa basis pertumbuhan pasar modal tetap melekat pada profil kependudukan di Banten.
“Bisa jadi masyarakat kita tinggal di Banten namun melakukan transaksi di Jakarta, tetapi secara rekam data tetap masuk ke Banten karena basis domisilinya ada di sini. Hal ini memperkuat posisi Banten sebagai basis investor yang potensial,” imbuhnya.
Selain sektor pasar modal, Afif juga memaparkan penguatan peran OJK Banten dalam sektor perbankan, di mana per 1 Januari 2026, pengawasan terhadap Bank Banten resmi beralih dari kantor pusat ke kantor perwakilan provinsi.
Langkah ini melengkapi tugas supervisi OJK Banten yang kini membawahi satu bank umum, 63 BPR/BPRS, dan enam Lembaga Keuangan Mikro.
Sebagai penutup, Afif menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekonomi melalui konsumsi rumah tangga yang menjadi penopang utama Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Banten.
Meski mendorong belanja untuk menciptakan efek pengganda bagi ekonomi, ia tetap mengimbau masyarakat agar tidak melupakan budaya menabung demi ketahanan finansial di masa depan. (Oleh Desi Purnama Sari – LKBN Antara)











