Investasi

Investasi Internasional Indonesia Turun Jadi 262 Miliar Dolar AS

Posisi investasi internasional (PII) Indonesia turun pada triwulan III 2022 mencatat kewajiban neto 262 miliar dollar AS (20% dari PDB), lebih rendah dari triwulan II tercatat 270 miliar dolar AS (21,3% dari PDB).

Siaran Pers Bank Indonesia yang dikutip MediaBanten.Com, Kamis (29/12/2022) menyebutkan, perkembangan ini dikontribusikan oleh penurunan posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) di tengah posisi Aset Finansial Luar Negeri (AFLN) yang relatif stabil.

Posisi KFLN Indonesia menurun seiring dengan penurunan nilai instrumen keuangan domestik di tengah surplus aliran masuk investasi langsung yang berlanjut.

Posisi KFLN Indonesia turun 1,2% (qtq) dari 705,2 miliar dolar AS pada akhir triwulan II 2022 menjadi 696,8 miliar dolar AS pada akhir triwulan III 2022.

Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh faktor penguatan nilai tukar dolar AS terhadap mayoritas mata uang global, termasuk Rupiah. Hal ini memengaruhi penurunan nilai instrumen keuangan domestik.

Sementara itu, transaksi KFLN tetap positif didukung oleh aliran masuk investasi langsung yang mencerminkan optimisme investor terhadap prospek perbaikan ekonomi dan iklim investasi domestik yang terjaga.

Posisi AFLN Indonesia relatif stabil. Pada akhir triwulan III 2022, posisi AFLN tercatat sebesar 434,7 miliar dolar AS, relatif stabil dibandingkan dengan posisi pada akhir triwulan II 2022.

Hal ini didukung oleh posisi aset investasi portofolio dan investasi lainnya yang meningkat seiring penempatan aset swasta.

Peningkatan posisi AFLN tertahan oleh faktor perubahan lainnya terkait penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang utama dunia dan penurunan harga beberapa aset luar negeri.

Bank Indonesia memandang perkembangan posisi investasi internasional Indonesia pada triwulan III 2022 tetap terjaga serta mendukung ketahanan eksternal.

Hal ini tercermin dari rasio kewajiban neto PII Indonesia terhadap PDB pada triwulan III 2022 yang tetap terjaga di kisaran 20,0%, turun dibandingkan dengan rasio pada triwulan sebelumnya sebesar 21,3%.

Selain itu, struktur kewajiban PII Indonesia juga didominasi oleh instrumen berjangka panjang (93,9%) terutama dalam bentuk investasi langsung.

Ke depan, Bank Indonesia meyakini kinerja PII Indonesia akan tetap terjaga sejalan dengan upaya pemulihan ekonomi Indonesia dari dampak pandemi Covid 19 yang didukung sinergi bauran kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah, serta otoritas terkait lainnya.

Meskipun demikian, Bank Indonesia akan tetap memantau potensi risiko terkait kewajiban neto PII terhadap perekonomian. (Siaran Pers Bank Indonesia)

Editor: Iman NR

Iman NR

Back to top button