Mozaik

Polemik Kehadiran KH Matin Syarkowi di Malam Natal, Ini Penjelasan KH Hisni

Kehadiran KH Matin Syarkowi, salah satu ulama di Banten pada acara malam Natal di Gereja Kristen Indonesi (GKI) dan memberikan tausyiah memicu perdebatan, di antaranya dituding telah mencampuradukan aqidah.

Namun KH Hisni Rifai, tokoh agama di Kecamatan Walantaka menyatakan bahwa kehadiran KH Matin Syarkowi pada agenda nata sesuai dengan kapasitasnya sebagai Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Serang.

“Menurut pandangan saya pribadi, itu sudah sangat tepat. Beliau hadir dalam kapasitas sebagai Ketua FKUB,” ujar KH Hisni Rifai, saat ditemui di Kampung Jaha, Walantaka, Minggu, 28 Desember 2025.

Ia menjelaskan, FKUB merupakan kepanjangan tangan pemerintah daerah dalam menjaga dan merawat kerukunan umat beragama. Karena itu, kehadiran Ketua FKUB dalam agenda keagamaan lintas iman menjadi bagian dari tugas dan tanggung jawabnya.

“FKUB itu perpanjangan tangan pemerintah. Kalau ada kegiatan keagamaan di Kota Serang, sudah sangat wajar Ketua FKUB hadir. Apalagi beliau ditunjuk langsung oleh wali kota,” katanya.

KH Hisni menilai, kehadiran tersebut justru mencerminkan peran FKUB dalam mengayomi seluruh umat beragama tanpa membedakan latar belakang keyakinan. Menurutnya, hal ini sejalan dengan semangat kebinekaan dan kerukunan yang harus dijaga bersama.

“Judulnya saja FKUB. Tugasnya memang melayani semua keberagaman agama yang ada. Jadi untuk mengayomi umat beragama, itu sudah sangat tepat,” lanjutnya.

Terkait tudingan bahwa kehadiran di gereja dapat merusak akidah, KH Hisni Rifai dengan tegas membantah anggapan tersebut. Ia menilai tuduhan itu tidak berdasar dan terlalu berlebihan.

“Masuk gereja terus merusak akidah, rusaknya di mana? Kita tetap Islam. Akidah kita tidak berubah dari masuk sampai keluar,” tegasnya.

Menurut KH Hisni, akidah seseorang berada di dalam hati dan tidak mudah goyah hanya karena hadir atau berinteraksi dengan pemeluk agama lain. Ia justru mengingatkan bahwa keberagaman adalah kehendak Allah SWT yang tidak bisa ditawar.

“Keberagaman itu bima syaatillah, kehendak Allah. Itu sudah sunatullah. Tidak bisa dipungkiri,” ujarnya.

Ia juga meminta masyarakat agar lebih memahami konteks kehadiran KH Matin Syarkowi di agenda Natal tersebut. Jika ada keraguan atau tuduhan, masyarakat diminta melakukan klarifikasi langsung, bukan menyimpulkan sepihak.

“Kalau ada yang menuduh, silakan klarifikasi langsung ke beliau. Secara kasat mata, beliau menjalankan tugasnya sebagai Ketua FKUB,” katanya.

KH Hisni menambahkan, bermuamalah atau berhubungan sosial dengan nonmuslim tidak dilarang dalam Islam. Kehadiran dalam acara keagamaan, selama bukan untuk mengikuti ibadah, tidak ada kaitannya dengan persoalan akidah.

“Akidah itu di hati. Masa cuma ngobrol atau hadir di acara, akidah rusak? Kalau akidah kita kuat, tidak akan terpengaruh,” ucapnya.

Ia menegaskan, KH Matin Syarkowi hadir bukan untuk mengikuti ritual ibadah Natal, melainkan dalam rangka menghadiri rangkaian acara resmi yang juga dihadiri pejabat pemerintah.

“Yang hadir itu momen acaranya. Ada sambutan Wali Kota Serang, Wakil Wali Kota, Kemenag, dan FKUB. Bukan inti ibadahnya,” jelas KH Hisni.

Karena itu, ia menilai polemik yang berkembang di masyarakat perlu diluruskan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dan perpecahan. Menjaga kerukunan, menurutnya, adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. (Taufik Hidayat)

Iman NR

Back to top button