Prasasti Raja Purnawarman di Cidanghilang Luput dari Perhatian Pemerintah

Foto: Beni Madsira

Situs Batu Tulis Cidanghiang di Desa Lebak, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang sesungguhnya menarik perhatian sejumlah wisatawan. Situs batu tulis ini merupakan peninggalan Raja Tarumanegara,  Purnawarman yang membuat prasasti batu tulis itu sebagai tanda daerah kekuasaan Tarumanegara pada abad ke-6 setelah bertempur dengan pasukan perompak.

Sayangnya, ketertarikan para wisatawan pada keberadaan situs batu tulis ini tidak diimbangi dengan akses jalan. Jalan menuju tempat tersebut sulit ditempuh oleh kendaraan roda dua mapun kendaraan roda empat.

Lokasi situ batu tulis berjarak 2 kilometer dari perkampungan di Desa Lebak, melewati jalan tanah di antara kebun-kebun milik masyarakat setempat. Akses menuju lokasi situs batu tulis itu semakin sulit setelah jembatan satu-satunya diterjang banjir pada awal Februari 2018. Jembatan itu hingga kini belum mendapatkan perbaikan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang. Jembatan itu diganti oleh masyarakat dengan menggunakan jembatan bambu.

“Kami berharap ada perbaikan jalan dan jembatan menuju lokasi Situs Batu Tulis Cidanghiang. Sebab situs ini sering dikunjungi wisatawan, terutama para pelajar dari Pandeglang sebelah selatan dan sekitarnya,” kata Hendri, Kepala Lebak, Kecamatna Munjul.

Hendrik membenarkan, masyarakat desa membentuk pengelola Situs Batu Tulis Cidanghiang untuk melakukan perawatan, perbaikan dan membuat fasilitas yang dibutuhkan bagi wisatawan, termasuk melakukan perbaikan jembatan di Sungai Cidanghiang.

Baca: Bumdes Cibaliung Kembangkan Obyek Wisata Batu Nyi Jompong Yang “Haid” Bulanan

Pengelola situs ini membutuhkan dana untuk penataan areal situs agar layak dijadikan obyek wisata. Di areal ini, sejumlah pelajar dan pencita alam acapkali berkemah. “<alau gedungnya sudaj cukup bagus dan terawat,  tinggal melakukan penataan di sekitar lokasi situs,  kemudian masih ada yang harus di tanggul kembali sisi kiri bangunan Situs,  sepanjang 10 meter.  Kalau sudah ditanggul, Situs Batu Tulis akan aman dari limpahan air sungai maupun air hujan,” katanya.

Kepala Desa Lebak itu berharap agar pemerintah bisa membantu membangun jembatan yang sudah ambruk Februari 2018 dengan jembatan yang layak, bukan jembatan yang terbuat dari bambu-bambu. Jembatan ini bukan hanya untuk kepentingan Situs Batu Tulis, melainkan juga kepentingan masyarakat di sejumlah desa. Setidaknya, jembatan itu menghubungkan Desa Lebak dengan Desa Cibiting, Desa Kadu Badak dan sekitarnya.

“Jika jembatan itu sudah dibangun dengan baik, maka akses ke obyek wisata Situs Batu Tulis Cidanghiang tidak hanya dicapai melalui Kecamatan Munjul, juga bisa ditelusuri melalui Kecamatna Angsana. Status jalan dan jembatan ini milik Kabupaten Pandeglang. Kami sudah mengusulkan di Musrenbang tingkat kecamatan dan tingkat kabupaten, semoga bisa direalisasikan secepatnya,” katanya.

Baharudin, kuncel Situs Batu Tulis Cidanghiang membenarkan, pembangunan jembatan yang permanen sangat penting agar akses ke situs ini mudah dijangkau oleh para pelajar dan wisatawan;. Sejak jembatan ambruk awal Februari 2018, pengunjung ke situs ini berkurang.

“Saya sangat mengharapkan sekali pada Pemerintah Kabupaten Pandeglang, agar segera membangun Jembatan dan jalan yang menuju lokasi Situs. Dulu sebelum jembatan Ini putus, setiap hati libur ada aja yang datang untuk meliat situs ini,  apalgi kalau pas libur panjang,  seperti tahun baru,  libur hari raya, pasti banyak masyarakat dari wilayah Kabupaten Pandeglang.  Dari Luar Pandeglang juga sering pada datang, untuk melihat situs dan makan-makan di lokasi situs, tapi semenjak jembatan ini putus jarang yang datang,  memang yang sering itu anak pelajar,  mulai SD, SMP dan SMA,  biasanya mereka di bimbing sama gurunya,  mereka sambil belajar sejarah dan melihat langsung Batu Tulis yang memang sudah masuk dalam Buku Pelajaran Sejarah,” ucapnya.

Bahrudin menjelaskan, Situs Batu Tulis Cidanghiang ditemukan peneliti Belanda bernama De Caasparis pada tahun 1947. Mereka melakukan penelitian, termasuk menerjemahkan kalimat yang tertera di batu tulis tersebut. Dari kalimat tersebut diketahui, batu tulis ini peninggakalan Raja Tarumanegara, Purnawrman pada abad ke-6 masehi.

“Tulisan di batu tersebut di artikan, wikrantoyam wanipateh prabhuh satyapara (k) ra (mah)  narendraddhwajabhutena srimatah purnnawarmmanah,  (inilah tanda keperwiraan keagungan keberanian yang sesungguh sungguhnya dari Raja Dunia yang mulia Purnawarman yang menjadi panji panji sekalian raja-raja,“ kata Kuncen Situs Cidanghiang Batu Tulis Desa Lebak Kecamatan Munjul Bahrudin.

Tujuh Prasasti

Menurut sejumlah sumber, Tarumanegara merupakan kerajaan yang berkuasa di Pulau Jawa sebelah barat. Kerajaan yang berdiri pada abad ke-4 hingga ke-7 Masehi ini merupakan salah satu kerajaan tua di Indonesia. Kerajaan Tarumanegara dikenal memiliki tujuh buah prasasti. Salah satunya adalah Prasasti Munjul. Prasasti Munjul disebut juga Prasasti Cidanghiang. Prasasti ini terdapat di tepi Sungai Cidanghiang yang terletak di Desa Lebak. Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang.

Prasasti ini berisi pujian kepada Raja Purnawarman yang berkuasa pada saat itu. Pujian ini diberikan karena Raja Purnawarman berhasil menumpas kelompok perompak yang telah mengganggu keamanan. Pada masa kekuasaan Raja Purnawarman, para perompak sangat merajalela. Mereka sangat meresahkan warga, terutama para nelayan. Hasil tangkapan mereka sering dirampas oleh para perompak. Selain merampas hasil tangkan, perompak itu sering menyiksa para nelayan dan keluarganya.

Perlawanan Raja Purnawarman terhadap para perompak bermula ketika perompak menyerang kapal milik kerajaan. Di dalam kapal itu, terdapat seorang menteri kerajaan. Para perompak seakan tidak peduli dan tidak takut dengan kekuasaan raja. Mereka tetap merompak kapal kerajaan. Para pengawal kerajaan berusaha melawan mereka. Namun, para perompak lebih kuat. Pasukan kerajaan dapat mereka kalahkan. Banyak pengawal yang gugur dan mayatnya dibuang ke laut.

Raja Purnawarman marah besar. Seluruh pasukan kerajaan disiapkan melawan perompak tersebut. Pasukan kerajaan menyerang kapal perompak pada malam hari. Para perompak sangat tidak siap dengan serangan itu. Mereka berhasil ditaklukkan. Para perompak itu ditangkap. Namun satu orang yang berhasil meloloskan diri. Ia adalah kepala perompak.

Rakyat Tarumanegara membuat sebuah prasasti yang berisi pujian kepada Raja Purnawarman. Isi prasasti itu adalah (ini tanda) penguasa dunia yang perkasa, prabu yang setia serta penuh kepahlawanan, yang menjadi panji segala raja, yang termahsyur Purnawarman. Prasasti itu kemudian dinamakan Prasasti Munjul karena berada di Kecamatan Munjul. Dan termasuk ke dalam tujuh prasasti yang terkenal di Tarumanegara. (Beni Madsira)

Berita Terkait