Saat Hujan, Binatang Melata Pun Masuk Ke Gubuk Nenek Muklinah

Foto: Golda

Lebih 20 tahun, Nenek Muklinah (80 tahun) menghuni gubuk reyot di Kampung Pasirbuntu, Desa Lebakpendeuy, Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak. Dalam gubuk itu, Nenek Muklinah tinggal sendiri, tanpa anak atau saudara. Nenek ini mengalami lumpuh kedua tangannya akibat digigit ular berbisa.

Keberadaan Nenek Muklinah itu diketahui oleh Heri, Petugas Pemungutan Suara (PPS) Desa Lebak Pendeuy saat menjalankan tugas memutakhirkan data untuk Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Lebak tahun 2018. Saat melakukan pencocokan dan penelitian (Coklit), dia merasa kaget dengan kondisi Nenek Muklinah yang hidup sendiri.

“Saya sedang tugas Coklit dengan petugas PPDP, kebetulan rumah yang kami Coklit rumah milik Nenek Muklinah. Dan saat itu saya kaget dengan kondisi rumah Nenek Muklinah yang tak layak huni,” kata Heri Minggu (12/02/18).

Nenek Muklinah biasa dipanggil Mak Emuk terdiam ketika dilakukan pencocokan dan penilitian data. “Saat saya tanya, Mak Emuk bilang lumpuh pada kedua tanganganya akibat sengatan ular berbisa” tuturnya.

Baca: Puisi Gubuk Reyot Buat Bupat Lebak

Rumah Mak Emuk terbuat dari anyaman bambu yang sudah tua dan lapuk, berlantai tanah dan kondisinya sudah miring. Mak Emuk hidup tanpa bantuan seorang pun. Anak satu-satunya memang tinggal tidak jauh dari lokasi rumah Mak Emuk. Namun kondisi ekonomi anaknya itu tidak berbeda jauh dengan Mak Emuk,” ujar Heri.

Heri, yang juga warga desa setempat berharap bantuan pemerintah untuk menolong kondisi Mak Emuk. Bahkan, dia juga berharap ada dermawan yang mau menolong Mak Emuk. “Saya harap pemerintah maupun dermawan mau membantu Mak Emuk, kasian rumahnya tak layak huni dan hanya sebatang kara,” kata Heri.

Gubuk Mak Emuk berukuran 2,5×4 meter dan berlantaikan tanah. Tempat tidur nenek ini terbuat dari bambu atau bale-bale. Saat musim hujan, rumah tersebut bocor karena atapnya sudah berlubang besar. “Biasanya kalau hujan, segala jenis binatang melata masuk ke rumahnya,” kata Mak Emuk dalam basa Sunda. Rumah reyot ini tidak memiliki penerangan karena tidak mampu untuk membeli lampu minyak tanah, apalagi memasang listrik.

“Mak cicing digubuk ieu sieun mun usim hujan, hatepna tos balocor ja ku barolong, haju teu aya lampu deui anu caang” papar Nenek Muklinah dengan raut sedihnya dengan menggunakan bahasa Sunda.

Selain itu Nenek Muklinah pun berharap agar mendapatkan bantuan dari pemerintah maupun relawan yang ini membantu rumah gubuknya tersebut. “Mak ngeun ngaharepkeun bantosana, tos 20 tahun cicing di gubuk jeng sa-ayaayana bae,” katanya. (Mak hanya berharap ada yang bantu, karena sudah 20 tahun tinggal di rumah ini dengan seadanya). (Golda)

Berita Terkait