Setelah Impor Beras, Diterbitkan Izin Impor Gula 111.000 Ton

Foto: Istimewa

Setelah keran impor beras dibuka, pemerintah akhirnya membuka juga “keran” impor gula. Perum Bulog mengaku sudah mengantungi izin impor gula dari Kementrian Perdagangan melalui Gendhis Multi Manis (GMM), anak perusahaan Perum Bulog. Diperkirakan, impor gula itu mulai masuk ke Indonesia pada bulan September 2018.

Seperti dilansir republika.co.id, Senin (27/8/2018), keran impor gula mentah yang dibuka Kementrian Pedagangan sekitar 111.000 ton. Dari jumlah itu, GMM memperoleh jatah 60.170 ton gula mentah. Impor gula mentah itu untuk memenuhi pasokan Bulog hingga Desember 2018. “Kalau sudah dapat pemasoknya paling tidak September Oktober masuk. Karena kita ada penugasan juga untuk mengisi pasokan pasokan gula,” tutur Tri Wahyudi Saleh, Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog.

Selain GMM, Kementrian Perdangan memberikan izin kepada PT Perkebunan Nusantara IX, Pabrik Gula Candi Baru, Pabrik Gula Rajawai I dan Pabrik Gula Rajawali II. Meski sudah mengantongi izin, Perum Bulog belum bisa memastikan pemasok gula mentah ke Indonesia karena masih mencari sumber gula mentah dan harga yang akan dikirim ke Indonesia.

Baca: Erupsi Gunung Dukonno, Wings Air Batalkan Penerbangan Manado-Galela

Di saat bersamaan, Perum Bulog tengah menyerap gula petani dalam engeri. Hingga Agustus, Bulog sudah membeli 100.000 ton gula petani. Gula dari petani dan gula mentah impor tetap akan digiling agar ketersediaan gula di pasaran bisa terpenuhi. “Yang penting tersedia di dalam negeri yang gula kristal putihnya, kita kan sedang serap gula petani makamnya kalau datang gilingnya kita lihat situasi,” ujarnya.

Menolak Impor Gula

Sementara itu, Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menolak rencana pemerintah yang akan mengimpor gula mentah (raw sugar). Menurut Sekjen APTRI, Nur Khabsyin impor gula mentah hanya akan membuat gula lokal tak akan laku dipasaran. Hal tersebut akan berimbas pada perekonomian petani tebu diberbagai daerah. “Tolak, sudah kebanyakan impor. Gula petani tak laku karena banjir impor, itu bikin petani sengsara karena kebanyakan,” tutur Nur Khabsyin.

Menurut Nur, pemerintah tak perlu lagi mengimpor gula lantaran stok gula masih cukup. Ia menjelaskan, stok gula pada 2017 terdapat 1 juta ton, rembesan rafinasi sekitar 800 ribu ton. Sedang produksi gula pada 2018 yakni sebanyak 2,1 juta ton. Sementara kata dia kebutuhan gula konsumsi 2,7 ton. Dengan begitu stok gula surplus 1,2 juta ton. “Kalau ada lagi izin impor berarti surplusnya bertambah, ini gila pemerintah mau bunuh petani dan industri gula dalam negeri,” katanya.

“Sekarang gula petani tidak laku, pedagang nggak beli. Sedang Bulog hanya beli sekali satu periode, sekarang pembelian bulog berhenti. Gula petani menumpuk ratusan ribu ton di gudang,” katanya. (Dari berbagai sumber / IN Rosyadi)

Berita Terkait