78 Koperasi Desa Merah Putih di Lebak Telah Beroperasi Berbasis Potensi Lokal
Sebanyak 78 dari 344 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Kabupaten Lebak, Banten telah beroperasi melaksanakan kegiatan aneka usaha masyarakat berbasis potensi lokal.
Plt Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak Imam Suangsa di Lebak, Rabu, mengatakan pemerintah daerah mendorong usaha aneka koperasi dapat tumbuh dan berkembang, sehingga meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat pedesaan.
Kehadiran KDMP itu dipastikan anggotanya sebagai pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan bisa ditampung produksinya di kios sembako.
Produksi UMKM itu kebanyakan jenis makanan camilan, seperti keripik stik ubi, singkong, bahwal, rempeyek ikan, stik bawang, rempeyek tempe, pisang sale, kembang goyang,roti, kentang goreng dan lainnya.
Selain itu juga potensi lokal lainnya, seperti hasil komoditas perkebunan , pertanian, peternakan dan perikanan di antaranya produksi gula aren dari bahan baku pohon aren juga kaceprek dari pohon melinjo.
Begitu juga produksi bakso ikan, kerupuk ikan, abon ikan, bolu ikan dari perikanan tawar dan tangkap.
“Produksi UMKM bisa memenuhi gerai koperasi, sehingga menggulirkan perputaran uang di desa itu,” katanya menjelaskan.
Menurut dia, perkembangan usaha KDMP yang beroperasi itu relatif baik dengan membuka tujuh unit usaha antara lain kantor koperasi, dan kios pengadaan sembako juga kios simpan pinjam.
Selain itu juga klinik kesehatan desa/kelurahan, apotek desa atau kelurahan, sistem pergudangan atau cold storage, dan sarana logistik.
Namun demikian, KDMP yang beroperasi itu mandiri dari anggota melalui dana wajib simpanan pokok dan simpanan wajib per bulan.
“Semua KDMP itu belum menerima penyertaan modal dari PT Agrinas Nusantara Pangan,” katanya menjelaskan.
Ketua KDMP Desa Pondok Panjang Kabupaten Lebak Aep Saepudin mengatakan saat ini kondisi usaha yang dikembangkan koperasi itu berbasis potensi lokal yang ada di desa setempat.
Dimana anggota koperasi di sini sebanyak 294 orang dan sebagian besar UMKM produksi usaha emping kaceprek, gula aren, sale pisang dan bakso ikan.
Produksi gula aren dari bahan baku pohon aren juga kaceprek dipasok ke sejumlah daerah di Banten hingga mampu menggulirkan perputaran uang Rp400 juta per bulan jika dikalkulasikan Rp40 ribu per kg dari produksi 10 ton per bulan itu.
“Kami mendorong agar koperasi itu tumbuh dan berkembang sehingga dapat menciptakan perekonomian baru bagi masyarakat pedesaan,” kata Aep. (Pewarta : Mansyur Suryana – LKBN Antara)











