KKM Kelompok 11 UNBAJA Rampungkan Monumen Tugu Salak di Gunungsari
Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 11 Universitas Banten Jaya (UNBAJA) merampungkan pembangunan Monumen Tugu Salak di Desa Curug Sulanjana, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Serang.
Monumen berbentuk buah salak tersebut diresmikan sebagai penanda wilayah sekaligus simbol identitas sejarah dan budaya desa.
Pembangunan monumen menjadi salah satu bentuk pengabdian mahasiswa KKM Kelompok 11 kepada masyarakat Desa Curug Sulanjana.
Selain mempertegas batas wilayah, keberadaan tugu diharapkan dapat mengingatkan masyarakat terhadap sejarah salak yang pernah menjadi salah satu komoditas unggulan sekaligus penopang perekonomian warga setempat.
Dibangun Selama Tiga Pekan
Pembangunan Monumen Tugu Salak berlangsung selama kurang lebih tiga pekan. Proses pengerjaan melibatkan mahasiswa KKM Kelompok 11 bersama masyarakat setempat, termasuk ketua RW, ketua RT, dan para pemuda desa.
Ketua KKM Kelompok 11 Unbaja, Ilfan, mengatakan pembangunan monumen merupakan bentuk dedikasi mahasiswa selama menjalankan program pengabdian di Desa Curug Sulanjana.
“Pembuatan monumen tugu salak ini dilakukan selama kurang lebih tiga minggu dengan melibatkan kerja sama yang sangat solid bersama warga masyarakat, ketua RW, ketua RT, serta para pemuda setempat. Tugu ini kami bangun tidak hanya berfungsi sebagai tanda batas wilayah yang mempertegas teritori desa, tetapi juga sebagai identitas kultural Desa Curug Sulanjana agar kelak terus dikenang oleh generasi-generasi berikutnya,” kata Ilfan.
Menurut Ilfan, keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut. Gotong royong antara mahasiswa dan warga dilakukan sejak tahap fondasi hingga penyelesaian akhir monumen.
Salak Pernah Menjadi Komoditas Unggulan
Pemilihan buah salak sebagai bentuk monumen tidak terlepas dari sejarah komoditas tersebut di Desa Curug Sulanjana.
Tokoh masyarakat sekaligus Ketua RW setempat, Mahroji, mengatakan tanaman salak telah dikenal masyarakat sejak puluhan tahun lalu. Menurut dia, komoditas tersebut mencapai masa kejayaannya pada era 1990-an.
“Kenapa harus tugu salak? Karena buah salak ini memiliki nilai historis di Desa Curug Sulanjana yang sangat melekat. Dulu waktu saya masih kecil, kisaran tahun 80-an, pohon salak itu sudah ada dan mulai tenar,” ujar Mahroji.
Ia menuturkan, pada masa kejayaannya, salak dari Desa Curug Sulanjana tidak hanya dipasarkan dalam bentuk buah segar, tetapi juga diolah menjadi sejumlah produk, seperti dodol dan sirup salak.
“Puncaknya, salak di Desa Curug Sulanjana ini sangat terkenal ketika tahun 90-an, di mana waktu itu ada produk olahan seperti dodol salak, sirup salak, dan sering ikut berbagai ajang kontes. Buah salak ini dulunya menjadi penopang utama perekonomian warga Desa Curug Sulanjana pada masa itu,” katanya.
Mahroji mengatakan keberadaan tanaman salak kini semakin berkurang akibat perkembangan zaman dan alih fungsi lahan. Karena itu, Monumen Tugu Salak diharapkan dapat menjadi pengingat bagi generasi mendatang mengenai sejarah komoditas tersebut.
“Sekarang, karena perkembangan zaman dan alih fungsi lahan, pohon salak sudah mulai jarang dan hilang. Jadi, melalui monumen ini kami ingin mengabadikan buah salak sebagai suatu lambang sejarah yang tak terlupakan,” tuturnya.
Pemerintah Desa Apresiasi Karya Mahasiswa
Kepala Desa Curug Sulanjana, Maryani, mengapresiasi pembangunan Monumen Tugu Salak yang dinilai memberikan manfaat bagi desa, baik sebagai penanda wilayah maupun sebagai identitas lokal.
“Kami merasa sangat bangga dan terbantu atas adanya monumen ini. Keberadaan Tugu Salak sangat penting bagi desa kami, bukan hanya sebagai penanda batas wilayah yang jelas, tetapi juga memperkuat identitas kultural Desa Curug Sulanjana agar memiliki ciri khas tersendiri yang mudah dikenali oleh pendatang,” kata Maryani.
Apresiasi serupa disampaikan Camat Gunungsari, Sri Rahayu Basukiwati, S.Sos., M.Si., yang turut hadir dalam peresmian monumen.
Menurut Sri Rahayu, pembangunan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan KKM dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui karya yang memiliki nilai sosial dan sejarah.
“Kami turut merasa bangga dan mengapresiasi setinggi-tingginya hasil kerja nyata KKM Kelompok 11 Unbaja. Memang sudah selayaknya setiap desa memiliki identitas yang kuat, sama halnya dengan wilayah Kecamatan Gunungsari yang memiliki karakter tersendiri,” ujarnya.
Ia menilai keberadaan Monumen Tugu Salak dapat memperkuat ciri khas Desa Curug Sulanjana sekaligus menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa selama melaksanakan pengabdian kepada masyarakat.
“Adanya Monumen Tugu Salak ini membuktikan bahwa mahasiswa KKM tidak hanya hadir secara seremonial, tetapi mampu meninggalkan jejak pembangunan yang bernilai sejarah dan bermanfaat bagi kemajuan identitas desa,” kata Sri Rahayu.
Peresmian Monumen Tugu Salak menandai berakhirnya salah satu rangkaian program KKM Kelompok 11 Unbaja di Desa Curug Sulanjana.
Monumen tersebut diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai penanda wilayah, tetapi juga menjadi pengingat sejarah kejayaan salak serta simbol kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat.
Editor: Abdul Hadi










