POR IKG Ke-1: Ribuan Warga Gunungkidul Padati Bekasi International Soccer Field
Suasana pagi di Bekasi International Soccer Field, Minggu (1/11/2026) terasa seperti di kampung halaman. Ratusan senyum, canda tawa berbahasa Jawa khas Gunungkidul, serta seragam warna-warni memadati lapangan hijau. Lebih dari 2.500 orang yang tergabung dalam kontingen dan defile 18 kapanewon tumpah ruah merayakan pembukaan Pekan Olahraga Ikatan Keluarga Gunungkidul (POR IKG) ke-1 Tahun 2026.
Ajang olahraga perdana warga Gunungkidul di perantauan Jabodetabek dan sekitarnya ini diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) IKG ke-56 yang akan diperingati pada 12 Desember 2026 mendatang.
Opening Ceremony berlangsung meriah dengan kehadiran sejumlah pejabat dan tokoh, di antaranya Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) RI Suyadi Pawiro, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto, Dandim 0507/Bekasi.
Hadir juga Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Gunungkidul Chairul Agus Mantara, Staf Ahli Bidang Sosial, Kemasyarakatan dan SDM Kabupaten Gunungkidul Supriyanto, serta Kepala Badan Penghubung Daerah (Banhubda) DIY Nugrohoningsih.
Opening Ceremony diawali dengan defile kontingen dari 18 kapanewon IKG yang diikuti lebih dari 2.500 peserta. Setiap kontingen tampil dengan identitas dan kekhasan masing-masing, memperlihatkan kekompakan, kreativitas, serta kebanggaan sebagai warga Gunungkidul di perantauan.
Suasana semakin semarak dengan penampilan tari kolosal Jaranan yang melibatkan sekitar 100 personel. Perpaduan olahraga, seni, dan budaya tersebut menjadi gambaran bahwa POR IKG bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan juga ruang untuk merawat identitas dan kebudayaan Gunungkidul.
Ketua Panitia POR IKG 2026 yang juga Ketua 1 IKG, Suyanto menyampaikan bahwa rangkaian pembukaan sengaja dirancang untuk menghadirkan semangat kebersamaan seluruh warga IKG.
“Opening Ceremony diawali dengan defile dari 18 Kapanewon IKG yang berjumlah lebih dari 1.500 peserta, juga tari kolosal Jaranan yang diikuti sekitar 100 personel. Mari menyambut POR IKG 2026 dengan happy dan tentu dengan semangat Guyub Rukun, Paseduluran Saklawase,” ungkap Suyanto.
Dalam rangkaian defile tersebut, panitia juga memberikan apresiasi kepada kontingen dengan penampilan terbaik. Penghargaan sebagai kontingen defile terbaik diraih oleh IKG Kapanewon Nglipar.
Ketua Umum IKG, Saimo menegaskan bahwa POR IKG memiliki makna lebih luas daripada sekadar pertandingan untuk memperebutkan gelar juara. Menurutnya, kegiatan ini merupakan sarana mempertemukan warga Gunungkidul di perantauan agar semakin saling mengenal, mempererat silaturahmi, dan membangun kepedulian antarsesama.
“POR IKG ini adalah sarana silaturahmi warga Gunungkidul di Jabodetabek untuk saling sapa, saling kenal, dan saling jaga. Kompetisi dalam POR IKG 2026 harus dilandasi dengan spirit Guyub Rukun, sportif, dan akhirnya prestasi yang akan kita raih bersama,” tegas Saimo.
Ia menambahkan, nilai utama yang harus terus dirawat oleh seluruh keluarga besar IKG adalah saling sapa, saling menjaga, dan saling membantu. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi terbentuknya organisasi yang guyub, rukun, dan memiliki kepedulian sosial.
“Melalui POR IKG, kita sedang menjalankan cita-cita organisasi. Ada soliditas yang kita bangun, olahraga yang kita kembangkan, budaya yang kita lestarikan, serta sinergi kelembagaan yang kita wujudkan. Jadi, POR IKG bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara, tetapi bagaimana kegiatan ini memberikan manfaat dan memperkuat organisasi serta persaudaraan kita,” tambahnya.
Apresiasi POR IKG
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto menyampaikan apresiasi atas kepercayaan IKG yang telah memilih Kota Bekasi sebagai lokasi penyelenggaraan POR IKG ke-1 Tahun 2026. Ia berharap kegiatan tersebut dapat terus dilaksanakan di Kota Bekasi pada tahun-tahun mendatang dan tidak perlu berpindah lokasi.
Menurutnya, warga Bekasi memiliki kedekatan sosial dan budaya dengan masyarakat Jawa, termasuk warga Gunungkidul. Potensi kebersamaan tersebut diharapkan dapat dikembangkan melalui kolaborasi lintas sektor yang memberikan kontribusi bagi kemajuan Kota Bekasi.
Dukungan dan apresiasi tersebut menjadi semangat tersendiri bagi IKG untuk terus membangun hubungan baik dengan pemerintah daerah tempat warga Gunungkidul bermukim dan beraktivitas.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, mengingatkan pentingnya persatuan dan persaudaraan melalui olahraga. Bupati mengutip pidato bersejarah Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, pada tahun 1960 yang bertajuk Membangun Dunia Kembali.
“Bangunlah dunia ini kembali! Bangunlah dunia ini kokoh dan kuat dan sehat! Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan,” demikian pesan Bung Karno yang dikutip Bupati.
Mengambil intisari pesan tersebut, Bupati Endah menekankan bahwa kompetisi olahraga harus menjadi sarana memperkuat fisik, melatih mental dan sportivitas, sekaligus mempererat tradisi srawung atau guyub rukun di antara warga perantauan.
Menurutnya, kemenangan sejati bukan semata-mata ditentukan oleh banyaknya medali atau gelar juara, melainkan ketika seluruh kontingen dapat pulang dengan membawa kebanggaan, pengalaman, dan ikatan silaturahmi yang semakin erat.
Sesmenpor: Ekosistem Industri Olahraga
Pemandangan hangat semakin terasa ketika Sesmenpora RI, Suyadi Pawiro, yang juga merupakan putra daerah asli Giritirto, Purwosari, Gunungkidul, naik ke podium. Di hadapan ribuan peserta, Sesmenpora menyampaikan tiga sasaran penting penyelenggaraan POR IKG.
Pertama, mendorong lahirnya atlet-atlet berprestasi. Ia mengingatkan bahwa Gunungkidul telah melahirkan banyak atlet andal yang mampu berkiprah di tingkat nasional maupun internasional. Potensi tersebut perlu terus dikembangkan melalui pembinaan dan kompetisi yang berkelanjutan.
Kedua, membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Dengan tubuh yang sehat, masyarakat dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan lebih baik dan menyenangkan.
“Dengan sehat kita makan apa saja enak. Makan tiwul saja sama sambal juga enak,” selorohnya yang disambut tawa dan tepuk tangan para peserta.
Ketiga, mendorong tumbuhnya ekosistem industri olahraga. Kemenpora, menurutnya, berkomitmen mendukung pengembangan ekosistem olahraga, baik bagi masyarakat perantauan maupun di daerah asal, Kabupaten Gunungkidul.
Sesmenpora juga mengusulkan agar POR IKG diselenggarakan secara konsisten di lokasi yang sama setiap tahunnya. Konsistensi lokasi dinilai dapat membantu membangun ekosistem olahraga yang lebih matang, sekaligus memberikan kepastian bagi para sponsor untuk berpartisipasi dan mendukung kegiatan dalam jangka panjang.
Kolaborasi Sponsor
Kesuksesan penyelenggaraan POR IKG 2026 juga tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Kolaborasi lintas sektor dan dunia usaha menjadi kekuatan penting dalam menghadirkan pesta olahraga warga Gunungkidul di perantauan ini.
Dukungan datang dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), serta sejumlah perusahaan dan unit usaha milik warga diaspora maupun mitra pendukung, di antaranya PT Kertas Nusantara, PT Putra Perdana, PT Indosiko, ARD Carwash, PT Tata Laksana Sakti, Kedai Dunia Muda (KDM), PT Ponco Jiwa Manunggal, PT Mustikasari Persada, dan Sosro Indonesia. Dukungan juga diberikan melalui perlindungan medis dan keselamatan bagi para atlet dengan asuransi Saling Jaga.
Kolaborasi ini sekaligus menunjukkan bahwa potensi warga Gunungkidul di perantauan tidak hanya terletak pada jumlah dan jaringan persaudaraan, tetapi juga pada kemampuan untuk saling mendukung, menggerakkan sumber daya, dan menghadirkan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Perolehan Medali POR IKG 2026
Pekan Olahraga Ikatan Keluarga Gunungkidul (POR IKG) 2026 menghadirkan persaingan menarik antar-kontingen Kapanewon. Berdasarkan klasemen perolehan medali, Kontingen IKG Kapanewon Ponjong berhasil menempati peringkat pertama dengan raihan 2 medali emas dan 1 medali perak, sehingga mengoleksi total 3 medali.
Posisi kedua ditempati Kontingen IKG Kapanewon Semin dengan perolehan 1 medali emas dan 2 medali perak, juga dengan total 3 medali. Sementara itu, peringkat ketiga diraih Kontingen IKG Kapanewon Rongkop dengan 1 medali emas.
Di posisi berikutnya, Saptosari menempati peringkat keempat dengan 1 medali emas, disusul Semanu di peringkat kelima dengan 2 medali perak.
Sementara itu, Ngawen berhasil mengumpulkan 3 medali perunggu, diikuti Playen dengan 2 medali perunggu. Paliyan dan Patuk masing-masing memperoleh 1 medali perunggu. Hingga pembaruan klasemen tersebut, POR IKG 2026 telah menghasilkan total 17 medali, terdiri atas 5 medali emas, 5 medali perak, dan 7 medali perunggu.
Dengan 18 kontingen Kapanewon yang berpartisipasi, setiap pertandingan menjadi kesempatan bagi para atlet untuk memberikan prestasi terbaik bagi daerah asalnya.
Tradisi Baru Warga Gunungkidul
Sementara itu, Humas IKG, Tarsih Ekaputra menjelaskan bahwa POR IKG 2026 bukan sekadar kegiatan olahraga, melainkan juga momentum untuk memperkenalkan organisasi sekaligus mengajak seluruh warga Gunungkidul di perantauan, khususnya wilayah Jabodetabek dan sekitarnya, untuk semakin mengenal dan menjadi bagian dari keluarga besar IKG.
Menurutnya, semangat paseduluran dan guyub rukun harus menjadi kekuatan utama dalam membangun komunitas diaspora Gunungkidul.
Melalui IKG, warga diharapkan dapat saling mengenal, bersinergi, bersatu, dan membangun satu kesatuan keluarga besar yang memiliki kepedulian terhadap sesama maupun kampung halaman.
“Kami tentu tidak bisa menjanjikan bahwa dengan bergabung bersama IKG seseorang akan memperoleh keuntungan secara ekonomi secara mutlak. Namun, melalui IKG kita memiliki ruang untuk saling mengenal, berdiskusi, membangun kebersamaan, saling menjaga, dan saling membantu. Nilai-nilai persaudaraan inilah yang jauh lebih penting untuk kita tumbuhkan bersama,” jelas Tarsih.
Ia juga menegaskan bahwa IKG bukan organisasi eksklusif yang hanya diperuntukkan bagi tokoh, pejabat, pengusaha, atau orang-orang penting asal Gunungkidul yang berada di perantauan. Sebaliknya, IKG merupakan wadah kebersamaan bagi seluruh warga Gunungkidul tanpa memandang latar belakang profesi, jabatan, status sosial, maupun kondisi ekonomi.
“IKG adalah rumah bersama. Siapa pun warga Gunungkidul yang berada di perantauan, termasuk generasi penerus dan diaspora Gunungkidul, memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari keluarga besar ini. Kita ingin membangun organisasi yang terbuka, inklusif, dan benar-benar hadir untuk semua warga,” tambahnya.
Tarsih berharap, melalui POR IKG dan berbagai kegiatan organisasi lainnya, semakin banyak warga Gunungkidul di perantauan yang mengenal keberadaan IKG, memahami manfaat kebersamaan, serta tergerak untuk berpartisipasi aktif dalam membangun persaudaraan.
“Kita mungkin datang dari kapanewon, desa, profesi, dan latar belakang yang berbeda, tetapi ketika berada di perantauan, kita adalah satu keluarga besar. Mari saling mengenal, saling menjaga, saling membantu, dan bersama-sama membesarkan IKG. Guyub Rukun, Paseduluran Saklawase,” pungkasnya.
Penyelenggaraan POR IKG ke-1 Tahun 2026 menjadi tonggak penting bagi perjalanan organisasi IKG Jabodetabek dan Banten. Lebih dari sekadar kegiatan olahraga, event ini memperlihatkan besarnya potensi kebersamaan warga Gunungkidul di perantauan yang tersebar di berbagai wilayah.
Kehadiran ribuan warga, dukungan pemerintah, partisipasi dunia usaha, serta keterlibatan 18 kapanewon menjadi modal sosial yang sangat berharga untuk membangun organisasi yang semakin solid dan berdaya.
POR IKG diharapkan menjadi agenda berkelanjutan yang tidak hanya melahirkan atlet-atlet berprestasi, tetapi juga memperkuat jaringan persaudaraan, mengembangkan potensi ekonomi warga, melestarikan budaya, dan membuka ruang kolaborasi antara masyarakat perantauan dengan Kabupaten Gunungkidul. (Pengirim: Tarsim Ekaputra – Humas IKG Via bphikgjaya@gmail.com)







