Badai Pasir di Arafah Tidak Menghentikan Ibadah Haji

Foto: Istimewa

Pemerintah Arab Saudi memastikan badai disertai angin yang menerjang Arafat pada Ahad (19/8/2018) malam, tidak mengganggu kelangsungan ibadah haji. “Ketika badai telah berlalu, situasi saat ini jauh lebih baik,” kata Wakil Menteri Haji dan Umrah Saudi Abdulfattah Mashat dilansir di Arab News, Senin (20/8/2018).

Abdulfattah Mashat memastikan efek badai berangin tersebut tidak serius. Pun petugas di lapangan memperbaiki sejumlah kerusakan hanya dalam waktu dua hingga tiga jam. “Untungnya situasinya bagus di situs Arafat dan pengaruhnya sangat ringan,” ujarnya.

Mashat memastikan tidak ada kerusakan serius dan korban jiwa akibat peristiwa tersebut. Sehingga, pemerintah Saudi tidak banyak menggelontorkan anggaran perbaikan. Ia menegaskan kondisi cuaca Saudi tidak akan mempengaruhi kegiatan calon jamaah haji jelang puncak ibadah haji.

Kondisi Arafah menjelang dan saat diterpa angin kencang dan hujan pada Ahad (19/8/2018) malam. “Seperti yang Anda lihat, gerakannya lancar dan jamaah saat ini hadir di Mina dan segera naik ke Gunung Arafat,” kata dia.

Baca: Ciri-ciri Hewan Kurban Yang Sehat Menurut Dinas Pertanian Banten

Mashat mengatakan petugas pertahanan sipil selalu siap mengamankan kegiatan ibadah haji. Karena itu, pemerintah menempatkan pertahanan sipil di tempat-tempat suci Arafah dan Mina.

Angin kencang dan hujan lebat mengguyur Arafat pada Ahad malam. Jamaan haji yang tengah melakukan perjalanan, menyaksikan kilatan petir jelang kegiatan di Arafat. Hujan lebat berlangsung selama satu jam dan kondisi kembali normal. Gubernur Makkah Pangeran Khaled Al-Faisal tiba di Mina untuk mengawasi operasi pemberangkatan dan pengaturan jamaah haji.

Sementara itu, siaran pers Kementrian Agama RI menyebutkan, badai pasir disertai angin dan hujan terjadi di Arafah, Ahad (19/8/2018) pukul 19.00 WAS. Waktu itu seluruh jemaah haji Indonesia yang telah berada di Arafah tengah melaksanakan salat maghrib bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Peristiwa tersebut berlangsung sekitar sejam. Kekuatan angin yang cukup kencang merobohkan satu tenda yang digunakan untuk dapur. Sementara seluruh tenda yang digunakan jemaah tetap aman dan selamat.

Begitu suasana agak mereda, Menag Lukman berkeliling ke seluruh tenda jemaah yang tersebar dalam 70 maktab. Di hadapan jemaah kloter JKG-21, misalnya, Menag menyapa hangat seluruh jemaah yang ada.

Bapak-ibu sekalian, saya mohon maaf sekali, ada jemaah yang belum makan. Ini tadi angin kencang dengan hujan. Sehingga proses penyiapan makan agak terganggu,” ujar Menag. “Mudah-mudahan ini merupakan ujian, istirahat yang cukup dan semoga besok dapat melaksanakan wukuf dengan sebaik-baiknya,” sambung Menag.

Agar jemaah tidak menunggu lama makan malam, Menag langsung perintahkan Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Arafah, Arsyad Hidayat, agar meminta kepada maktab untuk segera mendistribusikan makan. “Tolong perintahkan ke maktab 21 untuk segera mendistribusikan makanan,” tegas Menag kepada Kasatgas Arafah.

Sementara salah satu jemaah, Mohammad Khoeron Durori, menyebut jika tenda tahun ini relatif lebih kuat ketimbang 2016. “Dua tahun lalu saya menjadi petugas haji dan kualitas tenda tidak seperti ini,” ungkapnya. Menurutnya dulu angin yang melanda tidak sekencang kali ini, namun yang roboh cukup banyak. “Alhamdulillah, meski angin lebih kencang kali ini namun tenda tetap kokoh berdiri,” katanya. (republika.co.id/Siaran Pers Kemenag RI)

Berita Terkait