Ekonomi

Banten Akan Punya 5.000 Hektar Perkebunan Kopi

Banten akan memiliki perkebunan kopi seluas 5.000 hektar. Perkebunan kopi itu rencananya diwujudkan dalam dua tahun ke depan.

Untuk merealisasikannya, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Provinsi Banten akan menggandeng berbagai stakeholder antara lain, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Republik Indonesia, sejumlah OPD terkait di lingkungan Pemprov Banten serta pihak swasta.

Kepala Distanak Provinsi Banten, Agus M Tauchid mengungkapkan, Banten memiliki potensi lahan yang sangat menjanjikan untuk komoditas kopi unggulan, terutama jenis robusta. Lahan yang masih sangat menjanjikan itu berada di Kabupaten Lebak, Pandeglang dan Kabupaten Serang.

“Hari ini (Selasa, 13 Agustus 2019, red) saya menghadiri Rakor di Kementerian LHK untuk membahas berbagai hal, terutama kopi. Kementerian LHK ini yang mempunyai lahan yang bisa dimanfaaatkan untuk tanaman kopi unggulan Banten. Program ini tidak main-main, sebab pemerintah daerah akan bermain dengan skala besar,” ungkap Agus.

Baca:

Akses Transportasi

Kata Agus, pemerintah daerah juga akan membuka akses transportasi dengan membangun jalan poros yang representatif hingga ke pusat perkebunan kopi. Dengan dibukanya akses itu, kata Agus, maka akan memudahkan arus transportasi ekonomi.

Pemprov Banten, lanjut Agus, sudah dan akan terus membangun infrastruktur hingga ke pelosok. Salah satu tujuannya adalah membuka keterisoliran wilayah tertentu dan mendukung berbagai program pembangunan sektor lainnya, seperti pertanian dan perkebunan.

“Kopi adalah satu di antara sekian banyak primadona perkebunan di Banten. Maka pemerintah daerah wajib memperhatikannya. Banten sejak dahulu terkenal dengan perkebunannya. Ada lada, juga kopi. Jadi, kopi di Banten ini bukan barang atau komoditas baru,” terangnya.

Penentuan zonasi atau wilayah yang benar-benar cocok untuk perkebunan kopi, papar Agus, akan dilakukan dalam waktu dekat ini. Hasilnya akan dilaporkan ke gubernur dan realisasi program pun tidak akan membutuhkan waktu lama. Yang menggembirakan, saat ini mulai tumbuh kesadaran masyarakat terhadap potensi kopi.

“Distanak terus memberikan pelatihan dan bimbingan kepada masyarakat atau petani kopi tentang bagaimana cara pembibitan, budidaya dan pemeliharaan hingga panen. Hasilnya, meski dalam skala kecil namun geliat masyarakat mulai tumbuh. Ini yang menggembirakan kami,” pungkasnya (Rukman Nurhalim Mamora)

Back to top button