Banten Heritage dan STKIP Setia Budhi Bedah Buku “Aria Wangsakara”

bedah buku banten heritage

Banten Heritage dan Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP Setia Budhi menggelar diskusi dan bedah buku karya Mufti Ali berjudul “Aria Wangsakara” di Aula Serba Guna STKIP Setia Budhi, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Jumat (1/11/2019).

Dalam acara ini menghadirkan tiga pembicara. Mufti Ali selaku penulis buku tersebut, Budi Prakosa selaku pemerhati budaya dan Weni Widyawati selaku Ketua Prodi Pendidikan Sejarah STKIP Setia Budhi, serta Rian Fauzi, M.Pd selaku moderator yang memandu acara diskusi dan bedah buku ini.

Budi Prakosa mencoba mengamati Kesultanan Banten dari perspektif ketata-negaraan. Menurutnya, pandangan banyak orang mengenai bentuk negara Kesultanan Banten adalah Negara Kota. Tapi, jika melihat sifat Kesultanan Banten yang bersifat ekspansif, ia berpendapat bahwa Kesultanan Banten menggunakan sistem Monarki Konstitusional.

“Saya kira pendapat bahwa Kesultanan Banten sebagai Negara Kota terbantahkan oleh buku ini,” terangnya.

Baca:

Selanjutnya, giliran Weni Widyawati memberi tanggapan tentang kesadaran mengenal dan meneladani sosok Aria Wangsakara sebagai seorang diplomat yang ulung saat ia diutus oleh Sultan Banten ke Mekah dan membawa kabar baik sepulang dari Mekah.

“Sesungguhnya ada banyak sekali tokoh Banten yang bisa kita pelajari dan mengambil nilai-nilai perjuangannya, salah satunya Aria Wangsakara ini” sambungnya.

Sebagai pembicara terakhir sekaligus penulis buku Mufti Ali menjelaskan tentang upayanya mengusulkan tokoh asal Banten sebagai pahlawan nasional. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa Aria Wangsakara bukan saja seorang diplomat yang andal, tetapi juga seorang ulama, dibuktikan dengan diberinya gelar “Imam” oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Pemberian gelar itu menunjukkan kecakapan Aria Wangsakara dalam ilmu agama dan mengajarkan pada masyarakat.

“Sultan Banten sangat antusias menyambut kepulangan Aria Wangsakara membawa misi diplomasi dari Mekah, hingga diberi hadiah sebuah daerah beserta perangkat pengurusnya,” jelasnya. (Asep Murtadho Rizal)

IN Rosyadi

Jurnalis at MediaBanten.Com
Menjadi wartawan sejak tahun 1984 pada Harian Umum (HU) Kompas, kemudian mengundurkan diri pada Agustus 1999 dan menjadi wartawan harian sore Sinar Harapan pada tahun 2001 hingga tahun 2015, saat koran sore ini bangkrut. Pengalaman ini memadai untuk menjadi seorang editor yang mumpuni.

Berita Terkait