IAI Banten: Hentikan Bangun Gapura KPW, Khawatir Hancurkan BCB Kota Kesultanan

peta kuno kota kesultanan banten

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Banten, Muqodas Syuhada meminta agar pelaksanaan proyek pembangunan gapura di Kawasan Penunjang Wisata (KPW) Kesultanan Banten di Kota Serang agar dihentikan. Sebab di KPW terdapat temuan yang diduga benda cagar budaya (BCB) yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari kota zaman Kesultanan Banten.

“Temuan yang diduga BCB itu bisa jadi merupakan bagian kanal atau bagian dari permukiman kota. Memang ini harus dipastikan oleh para arkeolog dari BPCB,” kata Muqodas Syuhada, Ketua IAI Banten dan Firdaus Ghozali, mantan anggota DPRD Kota Serang kepada MediaBanten.Com, Senin (14/10/2019).

Muqodas mengirimkan foto peta kuno yang di tengahnya diberi lingkaran merah. Tanda lingkaran merah itu diduga daerah KPW sekarang. Di KPW ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Serang berencana membangun berbagai fasilitas penunjang wisata mulai dari terminal atau lapangan parkir, toko atau kios untuk berdagang, pusat informasi dan sebagainya.

Tercatat sudah empat temuan saat Pemkot Serang tengah membangun gapura atau pintu masuk ke KPW yang terletak di daerah eks Kebalen. Temuan itu berupa pondasi dan batu bata merah yang berukuran besar, sama persis dengan batu bata merah yang ada di reruntuhan Keraton Surosowan, Speelwijk, Menara Masjid Pacinaan dan sejenisnya.

Sementara itu, Mulangkara dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Serang mengatakan, BPCB akan mendokumentasikan seluruh temuan-temuan yang ada di sekitar KPW. “Saya hanya bertugas untuk mencek lokasi atas laporan dari masyarakat bahwa ada temuan yang diduga BCB. Atasan kami nanti yang memutuskan apakah bisa dilanjutkan atau memang harus dihentikan,” kata Mulangkara.

Baca:

Tidak Menghambat

Namun Mulangkara menegaskan, prinsipnya BPCB Serang tidak menolak atau menghambat penataan yang sedang dilaksanakan di Kawasan Kesultanan Banten. BPCB melakukan pencatatan secara akurat yang bisa menjadi bahan untuk kajian di kemudian hari. Jika dipandang perlu, maka BPCB akan melakukan eksvakasi (penggalian) di titik-titik tertentu untuk membuktikan dugaan atau asumsi keberadaan BCB yang terkubur di tanah.

“Sebaiknya, sebelum proyek itu dilaksanakan, lakukanlah tes atau uji dulu yang dilakukan BPCB Serang. Uji itu berupa penggalian tanah dengan kedalaman 1 meter, lebar dan panjang 1 meter. Lokasi pengujian itu biasanya dilakukan 4-5 titik di satu bidang lokasi proyek. Dengan cara ini bisa diketahui apakah di kedalaman tertentu terdapat BCB atau tidak, baru BPCB melakukan rekomendasi untuk dilanjutkan atau tidak,” kata Mulangkara.

Mulangkara sebagai petugas lapangan membenarkan, proses uji lokasi itu tidak dilakukan ketika Kawasan Banten Lama direvitalisasi atau istilahnya diganti dengan penataan. “Pengujian atau pencatatan baru dilakukan setelah ada temuan seperti sekarang ini Pak. Kami sih orang lapangan, diperintahkan untuk mencatat ya kami catat dengan berbagai dokumentasinya,” katamnya.

Sedangkan Iwan, mandor proyek pemasangan gapura di KPW mengatakan, pihaknya sedang berkoordinasi dengan Pemkot Serang apakah pelaksanaan pembangunan gapura ini dihentikan atau dilanjutkan. “Ini sudah dihentikan atau disetop,” katanya. Dia membenarkan, pemindahan lokasi titik pembangunan gapura sudah keempat kali dipindahkan akibat ditemukannya benda yang diduga BCB.

Menurut catatan MediaBanten.Com, temuan yang diduga BCB tidak hanya terjadi di KPW Banten Lama. Di depan reruntuhan Keraton Surosowan (sebelah utara) juga ditemukan patung Nandi atau patung hewan sapi yang merupakan kendaraan Dewa Shiwa dan pondasi yang berundak (mirip tangga).

Tim BPCB Serang yang melakukan ekskavasi menemukan artefak berupa mata uang Kesultanan Banten dalam guci, pecahan guci dari China maupun Eropa dan pondasi yang mengarah ke Alun-alun Masjid Banten Lama dan gedung Museum Banten milik BPCB di sebelah utara. Para arkeolog meyakini, pondasi itu merupakan bagian dari paseban agung atau tempat para tamu raja menunggu saat berkunjung ke Sultan Banten. (IN Rosyadi)

IN Rosyadi

Jurnalis at MediaBanten.Com
Menjadi wartawan sejak tahun 1984 pada Harian Umum (HU) Kompas, kemudian mengundurkan diri pada Agustus 1999 dan menjadi wartawan harian sore Sinar Harapan pada tahun 2001 hingga tahun 2015, saat koran sore ini bangkrut. Pengalaman ini memadai untuk menjadi seorang editor yang mumpuni.

Berita Terkait