Bulog Pasti Beli Gabah dan Beras Petani Banten Karena Intruksi Presiden

Foto: Adityawarman

Perum Bulog pasti akan membeli gabah dan beras dari petani di Banten. Pembelian itu merupakan tugas pokok dan fungsi dari Perum Bulog sesuai dengan Intruksi Presiden (Inpers) No.5 tahun 2015 tentang kebijakan pengadaan gabah/beras dan penyaluran beras dari pemerintah.

“Pasti Bulog membeli karena itu perintah dari pemerintah. Hanya pembelian Bulog itu harus sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah, tidak bisa kami membeli gabah atau beras mengikuti harga pasaran,” kata Fansuri Perbatasari, Kasubdrive Bulog Serang, Selasa (16/1/2018) yang ditemui MediaBanten.Com di ruang kerjanya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, Agus M Tauchid S menyatakan, Perum Bulog hingga sekarang belum melakukan pembelian gabah maupun beras dari petani di Banten. Padahal pembelian gabah atau beras dari petani diharapkan bisa menekan harga di tingkat petani, sehingga harga jual beras di pasaran bisa menurun (Kadis Pertanian: Bulog Tidak Beli Gabah dan Beras Petani Banten, mediabanten.com 15/1/2018).

Kasubdrieve Bulog Serang, Fansuri  Perbatasari mengemukakan, Perum Bulog dalam pembelian gabah dan beras mengikuti ketentuan yang ditetapkan. Untuk gabah kering panen (GKP) atau dikenal gabah petani, Bulog diinstruksikan untuk membeli dengan harga Rp3.700 per Kg dengan persyaratan kadar air 25 persen dan hampa 10 persen. Sedangkan gabah kering giling (GKG) atau gabah siap digiling, ditetapkan harga Rp4.600 per Kg dengan persyaratan kadar air 14 persen dan hampa 3 persen. Dan, beras dibeli dengan harga Rp7.300 per Kg dengan ketentuan kadar air 14 persen dan hampa 3 persen.

 Baca: Banten Gelar Operasi Pasar Medium di 7 Lokasi

“Kami tidak bisa membeli gabah dan beras di luar ketentuan yang ditetapkan pemerintah. Begini saja, bapak saya membeli aqua dengan harga Rp5.000/botol. Harga Aqua sedang mahal, misalnya Rp7.000 per botol, nah apakah bapak akan membeli Aqua itu? Kan uangnya cuman ada Rp5.000/Kg, berarti bapak harus nombolin Rp2.000 per botol,” kata Fansuri.

Fansuri mengatakan, persoalahan harga beras medium yang melonjak tinggi di pasaran akhir-akhir ini disebabkan sejumlah faktor, antara lain sentra-sentra produksi belum panen raya. “Baru beberapa hektar, misalnya di Ciruas, Pontang, Tirtayasa dan sekitarnya itu belum panen raya. Dari 25 hektar yang diprediksi akan panen, ternyata hanya 5 hektar dengan produksi 5-6 ton gabah kering panen per hektar,” katanya.

Karena persediaan gabah dan beras di pasaran berkurang akibat belum panen, harga gabah dan beras melambung tinggi. Harga gabah kering panen dibrandol petani dengan harga Rp4.000-Rp5.000 per Kg. “Kami tidak bisa membeli karena harga di atas yang ditetapkan pemerintah. Padahal kualitas gabah kering panen itu juga di bawah persyaratan, yaitu kadar air umumnya 30 persen dan hamba bisa mencapai 20 persen. Kalau kondisi begini kan, harganya hanya Rp2.000 per Kg. Bulog tak bisa juga membeli karena tidak dibolehkan oleh Inpers,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Kasubdrive Serang menyambut baik permintaan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Banten, Babar Suharso soal perbaikan kualitas beras medium yang dijual di operasi pasar di 7 lokasi di Banten. “Saya sudah tindak lanjuti untuk perbaikan kualitas beras medium tersebut,” ujarnya.

Sebelumnya, Babar Suharso minta Perum Bulog untuk memperbaiki kualitas beras medium yang dijual dalam operasi pasar. Sebab banyak warga yang tidak mau membeli karena kondisi beras medium itu kurang segar. “Saya bisa maklumi karena beras yang dijual Bulog itu merupakan beras stok. Sedangkan selera masyarakat itu ingin beras medium yang baru digiling. Jadi ini soal selera, tetapi kalau kualitas beras medium dari Bulog itu lebih baik, tentu mau dibeli masyarakat. Ini artinya tujuan operasi pasar untuk menekan harga beras medium yang melambung tinggi, bisa terwujud,” kata Babar Suharso. (Adityawarman)

Berita Terkait