Banten Gelar Operasi Pasar Beras Medium di 7 Lokasi

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten melancarkan operasi pasar, khususnya beras medium untuk menekan harga beras yang akhir-akhir ini melonjak tinggi. Operasi pasar itu sudah berlangsung sepekan terakhir di 7 pasar di Banten.

Sebelumnya, harga beras di tingkat eceran melonjak setelah tahun baru 2018. Harga beras medium yang biasa dibeli dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp9.000/Kg menjadi Rp11.000/Kg. Atau rata-rata naik sekitar 20 persen.

“Kami melakukan koordinasi dengan kabupaten dan kota untuk terus melancarkan operasi pasar hingga harga beras sesuai dengan harga eceran tertinggi atau HET. Operasi pasar ini dilakukan setiap hari,” kata Babar Suharso, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Banten seusai Rapat Pimpinan (Rapim) dengan Gubernur Banten di Pendopo Provinsi Banten, Senin (15/1/2018).

Ketujuah pasar itu terdiri dari 2 lokasi pasar di Kota Tangerang, Kota Serang di 2 lokasi, di Kota Cilegon 3 lokasi pasar. Namun Kadisperindag Banten mengakui adanya indikasi harga beras medium yang dijual di operasi pasar kurang diminati. “Dari pengamatan bisa disimpulkan ada pergeseran dari masyarakat soal beras. Selera masyarakat sekarang ini lebih memilih yang berkualitas, meskipun beras itu dikatagorikan sebagai beras medium,” ujarnya.

Baca: Harga Beras Medium Naik Drastis, Ibu-ibu Kebingungan

Karena itu, Disperindag Banten berupaya untuk meminimalkan keluhan soal beras medium di operasi pasar. “Saya sudah minta kepada Bulog Banten agar soal kualitas diperhatikan. Memang beras yang dijual di operasi pasar merupakan beras stok sehingga sudah lama tersimpan di gudang-gudang Bulog. Sedangkan masyarakat menginginkan beras yang lebih segar dan baru digiling. Setidaknya, dengan perbaikan kualitas beras di operasi pasar, tekanan harga bisa lebih dirasakan,” katanya.

Babar mengatakan, harga beras yang melonjak tinggi juga disebabkan oleh tingginya harga gabah kering panen (GKP). Di beberapa daerah yang panen di Banten tercatat harga GKP itu mencapai Rp3.500-Rp5.000/Kg. “Bagi pedagang lokal, harga sebesar itu cukup berat dan tidak mampu untuk membelinya. Namun bagi pedagang dari luar daerah, mereka berani membeli. Di satu sisi ini baik buat petani karena kenaikan harga beras juga dirasakan pada kenaikan pendapatan petani. Tetapi bagi konsumen, ini juga cukup berat karena harganya melonjak,” ujarnya.

Upaya lain yang ditempuh Disperindag Banten untuk menjaga kestabilan harga beras adalah berkoordinasi dengan sejumlah sentra-sentra produksi gabah di Banten. Koordinasi itu dilakukan melalui Satuan Tugas (Satgas) Ketahanan Pangan. Satgas itu dipimpin kepolisian. Tugasnya antara lain tidak terjadi penimbunan gabah yang bertujuan untuk mencari keuntungan besar. “Kami berkoordinasi agar gabah itu segera diperoses menjadi beras,” ujarnya. (Adityawarman)

Berita Terkait