Dua Tim ITB Menangkan Kompetisi Dunia Rancang Sistem Suhu

Dua tim mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) baru-baru ini memenangkan kompetisi internasional merancang sistem pengaturan suhu ruang yang efisien. Tim Wetonia dan tim Ganeshantuy keluar sebagai juara pertama dan kedua kategori Applied Engineering Challenge yang diadakan oleh organisasi HVAC (heating, ventilation, and air conditioning) terbesar di AS.

Dalam kompetisi internasional itu, para mahasiswa ditantang untuk merancang sebuah sistem agar para pengguna yang berada dalam sebuah bangunan bisa melaporkan isu-isu operasional terkait suhu ruang kepada operator bangunan itu.

Tim Wetonia merancang sebuah bangunan komersial ramah lingkungan di Bandung, di mana beberapa titik dan koridor lampunya diotomatisasi dengan memanfaatkan CCTV sehingga bisa lebih hemat energi.

Salah seorang anggotanya, Kamilita Hening Musono mengatakan kepada VOA bangunan itu juga dilengkapi dengan sistem otomatis untuk meningkatkan kenyamanan termal dalam ruangan.

Baca:

“Kami memikirkan soal keekonomisan dan visibilitas untuk digunakan juga. Kita memanfaatkan apa yang sudah ada dalam bangunan itu dan kami juga memiliki sistem berpikir yang lebih runtut.”

Tim Wetonia beranggotakan enam mahasiswa dari berbagai jurusan yaitu R. Muhammad Nadhir Nasrudin Tanujiwa dari Teknik Lingkungan, Alpinus Raditya Dewangga, Reza Dzikri Khusaini dan Kamilita Hening Musono dari Teknik Mesin, serta Hilman Prakoso and Selvia Diwanty dari Teknik Arsitektur.

Tim Wetonia yang beranggotakan enam mahasiswa ITB dari berbagai jurusan, memenangkan lomba Applied Engineering Challenge pada Agustus yang diadakan ASHRAE, organisasi HVAC terbesar di AS.

Tim Wetonia yang beranggotakan enam mahasiswa ITB dari berbagai jurusan, memenangkan lomba Applied Engineering Challenge pada Agustus yang diadakan ASHRAE, organisasi HVAC terbesar di AS.

Baca:

Sementara tim Ganeshantuy beranggotakan Calvin Sawaddah dari Teknik Mesin, Rezky Mahesa Nanda dan Ahmad Revo Guci dari Teknik Fisika, Ainun Fitryh Vianiryzki dari Teknik Informatika, serta Hafidza Fara Hapsari dan Valeryn Horlanso dari Teknik Arsitektur.

Mereka merancang sebuah bangunan komersial di Balikpapan yang dilengkapi muka bangunan (façade) yang kinetik sehingga bisa lebih adaptif terhadap iklim.

“Jadi saat pagi dan belum panas, façade kinetiknya terbuka, kemudian saat siang semakin hari semakin panas, façade kinetiknya adaptif bisa menutup sendiri. Ditambah dengan automated system yang dibangun oleh informatik-nya, mungkin bisa menghasilkan desain yang bagus dan berguna,” kata Horlanso.

Kedua tim ITB tersebut mendominasi kategori Applied Engineering Challenge yang diadakan ASHRAE atau American Society of Heating Refrigerating and Air Conditioning. Wetonia keluar sebagai juara pertama, disusul Ganeshantuy sebagai juara kedua.

Dipandu dosen pembimbing, mereka mengalahkan tim-tim mahasiswa lain dari seluruh dunia, termasuk dari Ekuador dan Mesir. (*)

Artikel ini bersumber dari VoaIndonesia.Com. Lihat halaman aslinya; KLIK DI SINI.

Berita Terkait