Gempa 7,1 M di Laut Filipina, Warga Talaud Rasakan Guncangan Keras

Gempa berkekuatan magnitudo 7,1 yang berpusat di Laut Filipina dan berjarak sekitar 132km dari arah Timur Laut kota Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, terjadi pada Kamis (21/01), sekitar pukul 19.23 WIB.

Walaupun dilaporkan tidak berpotensi tsunami, sejumlah warga yang tinggal di sejumlah wilayah terdekat, mengaku merasakan kekuatan gempa tersebut.

“Ada laporan kerusakan rumah warga (di kota Melonguane). Termonitor kerusakan di Desa Bantik, Kecamatan Beo,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Talaud, Leichdar Dahlan, kepada BBC News Indonesia, Kamis malam.

Menurutnya, sampai pukul 21.00 WIB, “belum ada laporan korban jiwa.”

Dihubungi secara terpisah, Kepala BPBD Sangihe, Rifo Pudihang, menyebutkan, kota Melonguane “sempat mati lampu”, tapi sekitar pukul 21.00 WIB dilaporkan listrik kembali normal.

Dilaporkan ada kerusakan lantai koridor RSUD Mala di Melonguane, namun “tidak ada kerusakan parah”, kata Rifo, mengutip keterangan BPBD Sangihe.

Baca:

Gempa berkekuatan magnitudo 7,1 dilaporkan BMKG terjadi pukul 19.23 WIB di wilayah Laut Filipina. Hasil analisis BMKG menunjukkan episenter gempa terletak pada koordinat 4,94 LU dan 127,44 BT.

Tepatnya pusat gempa berlokasi di laut pada jarak 132 km arah timur laut Kota Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara pada kedalaman 119 km.

Seorang warga di Kota Tahuna, Sangihe, Sulut, Shiaron Mahansang, mengaku “gempanya kuat sekali, kuat sekali,” katanya kepada BBC News Indonesia, Kamis malam.

Menurut BMKG, guncangan gempa dirasakan sejumlah warga di daerah seperti Melonguane, Tahuna, Manado, Bitung.

“Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan akan truk berlalu,” ungkap Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Bambang Setiyo Prayitno, dalam keterangan tertulisnya, Kamis malam.

Beberapa warga di Ternate, Sofffi, dan Halmahera Tengah, juga merasakannya. “Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang.”

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, menurut BMKG, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa menengah, “akibat adanya aktivitas subduksi lempeng Filipina.”

“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault),” kata Bambang.

Bambang menambahkan, dari hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Dia menambahkan, hasil monitoring BMKG “belum menunjukkan adanya aktivitas gempa susulan.” (*)

Berita ini dikutip utuh dari BBC Indonesia, lihat halaman aslinya KLIK DI SINI.

Berita Terkait