Gunung Anak Krakatau Tercatat Erupsi Jumat, Pukul 12.51 WIB

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali erupsi atau terjadi letusan di permukaan tanah, Jumat siang (10/5/2019), sekitar pukul 12.51. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 54 mm dan durasi sekitar 13 menit 6 detik.

Pusat Vulkonologi dan Geofisika Kementrian Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang berkantor di Bandung menyebutkan, letusan permukaan atau erupsi itu tidak terdengar suara dentutaman. “Tinggi kolom abu vulkanik juga tidak teramati,” seperti yang ditulis di web Kementrian ESDM Badan Geologi yang dikutip MediaBanten.Com.

Saat ini Gunung Anak Krakatau berada pada Status Level II (Waspada) dengan rekomendasi para wisatawan atau masyarakat tidak dibolehkan mendekati kawah dalam radius 2 kilometer dari kawah.

Gunung Anak Krakatau berlokasi di koordinat 6°06’05.8″ LS dan 105°25’22.3″ BT, Selat Sunda, Kabupaten . Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Kota terdekat dari gunung ini adalah Kalianda (Lampung), Merak, Anyer dan Labuan yang berada di Provinsi Banten.

Baca: Baduy Minta Status Desa Adat dan Perluasan Wilayah

Gunung Anak Krakatau bertipe pulau gunung api dengan salah satu kerucut aktif di pusat kalderah atau kawah. Pemerintah telah membangun pos pengamatan di Pasuruan, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang dan Hargopancuran, Kecamatan Kalianda, Lampung.

Komplek Gunungapi Krakatau dapat dicapai dari beberapa jalur laut. Jalur pertama berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priuk dengan menggunakan kapal Jet-Foils atau Kapal Pesiar.

Jalur kedua dapat ditempuh dari Pelabuhan Labuan, kota kecamatan di pantai barat Banten. Dari pelabuhan ini dapat menyewa kapal motor atau kapal nelayan yang berkapasitas antara 5 sampai 20 orang.

Jalur ketiga ditempuh dari Pelabuhan Canti, Kalianda, di pelabuhan ini juga dapat menyewa kapal motor atau kapal nelayan yang akan menempuh Krakatau melalui P. Sebuku dan P. Sebesi. (IN Rosyadi)

IN Rosyadi

Jurnalis at MediaBanten.Com
Menjadi wartawan sejak tahun 1984 pada Harian Umum (HU) Kompas, kemudian mengundurkan diri pada Agustus 1999 dan menjadi wartawan harian sore Sinar Harapan pada tahun 2001 hingga tahun 2015, saat koran sore ini bangkrut. Pengalaman ini memadai untuk menjadi seorang editor yang mumpuni.

Berita Terkait