In Memoriam Ustad Harry Moekti: Dari Rocker Kondang Jadi Dai

Foto: Istimewa

Ustad Harry Moekti atau Mukti meninggal dunia di Cimahi, Bandung dan dimakamkan di Kampung Pasir Kuda, Desa Cikareteg, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (25/6/2018). Yang menarik dan selalu diceritakan ustad ini adalah perjalanan hidupnya dari seorang rocker terkenal pada era 1980-1995, berhijrah menjadi seorang pendakwah atau dai saat di puncak ketenarannya.

Inilah lagu yang terkenal di era 1980-1990 yang dinyanyikan Harry Moekti sebelum hijrah seperti  Hanya Satu Kata, Ada Kamu, Nona dan Dalam Kegelapan. Penampilannya sebagai rocker jelas berbeda dengan penampilan dai. Segala asesoris menempel tubuh dengan gaya berjingkrak dan sebagainya. Namanya dapat disejajarkan dengan rocker terkenal Gito Rolies.

Harry Moekti terlahir dengan nama Hariadi Wibowo di Cimahi, Jawa Barat pada tanggal 25 Maret 1957. Sebagai anak tentara, Harry Moekti alias Hariadi Wibowo sering berpindah-pindah. Namun bakatnya di bidang musik muncul ketika berada di Semarang, Jawa Tengah. Saat itu, dia berkerja menjadi room boy di sebuah hotel dan mendirikan sebuah band bernama Darodox yang berarti gemetar. Di band ini, nama Harry Moekti sudah dipakai, menggantikan nama Hariadi Wibowo.

Setelah ayahnya meninggal pada tahun 1980, Harry kembali ke Bandung dan bergabung dengan Orbit Band, Primas Band bersama Tomy Kasmiri dan New Bloodly Band. Pada tahun 1982, Harry bergabung bersama Makara di Jakarta. Grup band ini bubar ketika Harry Moekti melakukan rekaman solo (sendirian). Setelah itu, Harry bergabung dengan Krakatau Band tahun 1985.

Baca: Din Syamsudin: Acara Karma Roy Kiyoshi Ant TV Sesatkan Aqidah Umat Islam

Rekaman lagu yang menjadi hits atau laku keras di pasaran setelah bergabung dengan Adegan Band pada tahun 1987. Selama kariernya Harry telah membuat tujuh album rekaman, albumnya yang terkahir adalah Di Sini. Album terakhir itu dibuat ketika Harry mulai menekuni agama Islam lebih mendalam, sehingga Hari tidak melakukan promosi dengan mengadakan show seperti yang dilakukan setiap penyanyi ketika albumnya muncul. Akibatnya album terakhir itu kurang laku di pasaran.

Dunia yang dekat petualangan alam adalah dunia Harry yang lainnya ketika masih menjadi penyanyi. Ia sempat membuat klub panjat tebing di Sukabumi, juga menjadi anggota SAR, aktif dalam olahraga Arung Jeram (search and Rescue) kemudian mengikuti kursus terjun payung di Australia. Semua itu dilakukannya dari tahun 1990 sampai 1996.

Titik balik kehidupan Harry Moekti adalah pada konser malam pergantian tahun 1995. Rocker yang sedang terkenal ini merasa direndahkan dengan bayarannya yang sedikit dan diperlakukan tidak sepantasnya menurut ukuran ketenaran seorang rocker. Kemarahannya membuncah. Dalam kemarahannya itu, dia bertemu seorang ustad yang “menyentuh hatinya”. Ujaran ustad ini mampu meredam kemarahan dan mendatang kedamaian di hatinya.

Bukan hanya itu. Harry mulai mempelajari Agama Islam secara serius. Sejak saat itu, Harry jarang tampil membawakan lagunya dan tidak pernah lagi mempromosikan album lagu-lagunya. Pada tahun 1997, Harry Moekti benar-benar mundur dari dunia artis dan menjadi seorang dai. Langkah ini mengejutkan banyak pihak karena lagu-lagunya memang sedang hit di era tersebut.

Perjalanannya sebagai dai juga tidak mudah. Secara perlahan-lahan, Ustad Harry Moekti mulai dibanjiri undangan untuk memberikan tausyiah di banyak tempat. Dalam setiap tausyiah, Harry Moekti tidak lupa menyisipkan kisah hidupnya dari seorang rocker yang penuh dengan glamour menjadi seorang dai. Hingga akhirnya Harry Moekti dipanggil pulang Allah SWT pada tanggal 25 Juni 2018.

Pemakaman ini dipadati warga yang ingin mengucapkan belasungkawa pada keluarga. Namun makam Ustad Harry Moekti sangat sederhana sesuai dengan pesan almarhum. Harry Moekti jauh sebelumnya selalu berpesan agar jika dia meninggal, di atas pemakaman tidak boleh ada bunga yang ditaburkan dan tidak boleh ada nisan. Nisan itu diganti dengan ditancapkannya bendera bendera Ar-Rayah dan Al-Liwa masing-masing berwarna hitam dan putih. Di bendera itu tertulis huruf arab. (dari berbagai sumber / Iman Nur Rosyadi)

 

Berita Terkait