Kematian Ibu dan Anak di Banten Tinggi, Per Pekan 5 Ibu dan 27 Bayi Meninggal

Foto: Sofi Mahalali

Harris Rambey, Regional Manajer USAID Jalin Project mengatakan, angka kematian terhadap ibu dan neonatal (anak berusia kurang dari satu tahun) di Banten cukup tinggi. Dalam satu minggu ada 5 ibu meninggal saat melahirkan atau sebelu melahirkan dan 27 bayi meninggal.

“Kematian ibu bisa terjadi pada saat kehamilan, persalinan, dan pasca persalinan,” kata Harris Rambey di Hotel Le Dian, Kota Serang, Kamis (8/11/2018).

Harris mengatakan, dalam setiap tahap pada proses kehamilan sampai pasca persalinan, seorang ibu memikiki resiko meninggal. Pada studi Banten II yang dilakukan di Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, dan Kota Serang. Menunjukan bahwa, sepanjang tahun 2011-2017. Kematian ibu paling banyak terjadi pada masa pasca persalinan yakni sekitar 64%, sementara itu kematian pada saat melahirkan sekitar 9%, dan 24% kematian pada saat kehamilan.

“Banten dalam program masih relatif tinggi, jadi bisa dibayangkan ketika kita harus berduka cita jika hal tersebut terus terjadi setiap minggunya,” ujarnya.

Harris membeberkan, pada tahun 2016 total ibu meninggal sekitar 240 orang. Kabupaten serang nemiliki kasus kematian paling tinggi yaitu 59 kasus. Selain itu pada kasus kematian pada tahun 2015-2017 di Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, dan Kota Serang menemukan jumlah kematian ibu lebih besar, yaitu 371 kasus.

Baca: Gubernur: Kesehatan di Banten Paling Krusial dan Butuh Perhatian

Sementara untuk kasus kematian neonatal tertinggi, Harris mengatakan, terdapat di dua Kabupaten, yakni pada tahun 2015, sejumlah 1380 anak meninggal pada usia 0-28 hari. Kabupaten Lebak 371 kasus, dan Kabupaten Tangerang 322 kasus.

Harris menilai, kasus kematian Ibu dan neonatal dapat dicegah. Dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat mencegah terjadinya kondisi ini. Selain itu, peningkatan pelayana layanan kesehatan menjadi penting.

“Pada tahun 2015 hampir 15% ibu hamil tidak melakukan proses pemeriksaan lengkap sepanjang proses kehamilannya. Selain itu, meskipun pendarahan merupakan penyebab kematian terbanyak sampai tahun 2015. Hanya tersedia 3 Bank Darah Rumah Sakit, dan 1 unit transfusi darah,” katanya.

Harris berpendapat, upaya penurunan hal tersebut, memerlukan kontribusi dari semu pihak. Permasalahan dalam bidang kesehatan tidak hanya dapat diselesaikan hanya dengan melakukan perbaikan di sektor kesehatan. Hal ini memerlukan kontribusi dati selurih sektor terkait dalam upaya menurunkan kematian ibu dan neonatal. “Dalam kematian ini ada tiga paktor dan bisa diupayakan untuk dicegah. Tetapi harus dikeroyok, karena 60% dapat dicegah diluar dari faktor non-kesehatan,” ungkapnya.

Harris mengatakan, sekalipun bidang kesehatan sudah optimal dilakukan, hal tersebut tidak cukup untuk dapat menurunkan angka kematian. Karena contoh faktor paling dasar, seperti bisa karena kendala tranfsortasi, geografis, dan faktor ekonomi. Hingga faktor komunikasi, karena kesulitan jaringan.

“Karena kita berusaha, namun kematian itu kan banyak diakibatkan karena pendarahan. Pada saat Kita mencari darah itu kan persediaan darah itu gak bisa. Harusnya pencarian darah ini sudah online. Agar tetap ada persediaannya, dan harusnya sudah siap,” katanya.

Harris menilai, ketika seorang ibu meninggal karena pendaran. Itu bisa terjadi karena dia sudah terlambat, karena 38 persen pendarahan itu dialami lebih dari 2 jam perjalnaan. Sehingga mengakibatkan hal yang fatal. (Sofi Mahalali)

Berita Terkait