Dinkes Cilegon Optimalkan Deteksi Dini Penyakit HIV
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon mengoptimalkan deteksi dini dan sosialisasi edukasi ke berbagai kalangan masyarakat untuk pencegahan kasus penularan penyakit HIV atau Human Immunodeficiency Virus.
Kepala Dinkes Cilegon Ratih Purnamasari di Cilegon, Jumat, mengatakan pemerintah daerah mengoptimalkan kegiatan deteksi dini untuk pencegahan penularan penyakit HIV dengan melakukan pemeriksaan Mobile Voluntary Counseling and Testing (VCT) pada kelompok-kelompok berisiko.
Selain itu, juga melakukan kegiatan sosialisasi di lingkungan masyarakat, sekolah, dan perusahaan juga petugas medis Dinkes Kota Cilegon juga menjalankan program skrining bagi ibu hamil untuk mendeteksi HIV, sifilis dan hepatitis sejak dini.
“Kegiatan itu merupakan salah satu bentuk pencegahan kasus HIV di daerah itu,” katanya menjelaskan.
Menurut dia, pihaknya kini terus menggencarkan kampanye peringatan Hari AIDS Sedunia setiap 1 Desember serta pendekatan berbasis komunitas untuk meningkatkan kesadaran publik.
Sebab, kasus penularan HIV erat kaitannya dengan perilaku berisiko, seperti hubungan seksual tanpa pengaman, berganti pasangan, serta penggunaan narkoba suntik.
“Kami mengimbau masyarakat untuk menghindari perilaku berisiko, menggunakan alat pelindung, dan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan,” katanya.
Ia menegaskan, pencegahan HIV membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah, keluarga, sekolah, hingga masyarakat.
Berdasarkan data Dinkes, pada 2025 tercatat 102 kasus baru HIV, sedangkan hingga Februari 2026 ditemukan 16 kasus baru.
Dari jumlah tersebut, delapan kasus berasal dari kelompok laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL), satu kasus dari pelanggan pekerja seks, satu kasus dari pasangan suami-istri, serta dua kasus dari populasi umum yang tidak teridentifikasi faktor risikonya.
Selain itu, terdapat satu kasus HIV dengan komplikasi tuberkulosis (TBC) dan tiga kasus yang telah memasuki tahap AIDS disertai infeksi menular seksual (IMS).
Namun , pihaknya tidak menemukan kasus pada ibu hamil, waria, pengguna narkoba suntik, maupun warga binaan pemasyarakatan.
Secara kumulatif, sejak 2005 hingga Februari 2026, total kasus HIV/AIDS di Kota Cilegon mencapai 1.484 kasus, terdiri atas 1.060 kasus pada laki-laki dan 424 kasus pada perempuan.
Kasus terbanyak terjadi pada kelompok usia produktif 20–49 tahun, meskipun penularan juga ditemukan pada anak melalui transmisi ibu ke anak.
Ratih menambahkan, HIV dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh sehingga penderitanya rentan terhadap infeksi oportunistik.
“Penderita HIV sangat rentan terhadap infeksi seperti TBC karena daya tahan tubuhnya menurun,” ujarnya. (Pewarta : Mansyur Suryana – LKBN Antara)











