Lagi, Pembunuhan Jurnalis Terjadi di Meksiko

Foto: Google

Seorang jurnalis di Meksiko, Amerika Latin kembali ditembak sekelompok orang yang tidak dikenal di Negara Bagian Chiapas, Meksiko Selatan. Pembunuhan jurnalis ini merupakan yang kesembilan terjadi di Meksiko selama tahun 2018.

Kelompok Reporters Without Borders menyatakan, Mario Gomez, reporter di surat kabar El Heraldo de Chiapas, merupakan korban terbaru dalam gelombang kekerasan terhadap pers di Meksiko. Dia ditembak saat meninggalkan rumahnya pada Jumat (21/9) waktu setempat seperti yang dilansir Detik.Com yang mengutip laporan Kantor Berita AFP, Sabtu (22/9/2018).

“Dia baru-baru ini mengajukan komplain karena dia mendapat ancaman,” ujar seorang kolega Gomez seperti dikutip kantor berita AFP, Sabtu (22/9/2018). Pihak surat kabar El Heraldo de Chiapas menyatakan, Gomez tengah meninggalkan rumahnya untuk pergi bekerja saat dua pria tak dikenal muncul dan membunuhnya dengan melepaskan beberapa tembakan ke bagian perut.

Gomez pun dilarikan ke rumah sakit namun meninggal akibat luka-lukanya. Pria itu berumur 35 tahun. “Kami menyerukan penyelidikan menyeluruh untuk menemukan mereka yang bertanggung jawab atas kejahatan ini,” demikian disampaikan para koleganya dalam editorial yang dimuat di situs surat kabar tersebut.

Baca: Lion Air Group Berduka, Pilot Seniornya Tewas Kecelakaan di Madinah

Kantor kejaksaan negara bagian menyatakan pihaknya “akan menempuh semua jalur penyelidikan untuk mengungkap kejahatan tercela ini dan membawa mereka yang bertanggung jawab ke pengadilan.” Meksiko disebut sebagai negara paling mematikan kedua di dunia bagi para jurnalis. Peringkat pertama adalah Suriah yang terus dilanda perang.

Sebelumnya, seorang jurnalis ditemukan tewas di Meksiko tenggara, tidak jauh dari kawasan wisata Cancun. Ini merupakan pembunuhan serupa ketujuh tahun ini di Meksiko, yang termasuk salah satu negara paling berbahaya bagi jurnalis.

Pemerintah negara bagian Quintana Roo mengatakan seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (25/7/2018), Ruben Pat, pemimpin redaksi mingguan Playa News, tewas ditembak di luar sebuah bar di Playa del Carmen pada Selasa (24/7) dini hari waktu setempat.

Dia adalah jurnalis kedua dari Playa News yang berbasis di Playa del Carmen, yang dibunuh dalam waktu kurang dari sebulan terakhir, setelah koleganya, Jose Guadalupe Chan. Playa del Carmen berlokasi sebelah selatan Cancun di pantai Teluk Meksiko.

“Sangat penting bahwa penyelidikan yang cepat, lengkap dan efektif dilakukan,” ujar Jean Jarab, perwakilan badan hak-hak PBB untuk Meksiko. “Penyelidikan itu harus fokus ke kisah-kisah yang telah dikerjakan Pat dan Playa, serta contoh-contoh ancaman dan serangan sebelumnya terhadap para insan pers,” imbuhnya.

Menurut Reporters Without Borders (RSF), Meksiko berada di urutan kedua sebagai tempat paling berbahaya di dunia bagi jurnalis, setelah Suriah yang dilanda konflik berkepanjangan.

Kantor Komisioner Tinggi PBB untuk HAM (OHCHR) mengatakan, Pat mengklaim pada Juni lalu bahwa dirinya telah “ditangkap, diancam dan disiksa” polisi di Playa del Carmen, yang juga merupakan pusat wisata. Pat saat itu mengatakan bahwa dirinya telah “mempublikasi informasi yang akan mengaitkan pejabat-pejabat lokal dengan kejahatan terorganisir,” demikian menurut badan PBB tersebut.

Atas pembunuhan ini, Komisi HAM Quintana Roo menuntut tindakan tegas dari otoritas setempat. “Cukup sudah serangan-serangan terhadap kebebasan berekspresi,” tegasnya. (Dari berbagai sumber / IN Rosyadi)