Ojek Tradisional Belum Terima Ojek Online

Kehadiran Ojek Online masih belum diterima oleh pengemudi ojek tradisional (manual). Sikap penolakan ojek online ini diperlihatkan di sejumlah pangkalan ojek di perumahan maupun pusat-pusat keramaian di Kota Serang. Selain tindakan “pencegatan”, ojek tradisional ini memapang sejumlah spanduk yang berisi larangan untuk mengambil penumpang di kawasan mereka.

Keterangan yang dihimpun hingga Senin (25/9/2017) menunjukan, spanduk penolakan ojek online terpampang di Perumahan Persada, Sayabulu dan Statsiun Kereta Api di Tamansari, Kota Serang. “Kami biasanya rame orderan waktu belum ada ojek online. Sekarang sedikit berkurang,” kata seorang pengemudi ojek tradisional di KA Serang, Badrudin.

Badrudin mengeluhkan puluhan pengemudi Gojek yang sering mengambil penumpang di area itu. Kejadian itu, kata dia, telah menimbulkan keresahan bagi pengemudi ojek yang sudah lama di sekitar Statsiun KA Serang. “Spanduk ini dipasang agar ojek online tidak lagi mangkal di tempat kami. Kalau tidak seperti itu kan kami juga rugi dan penghasilan semakin sedikit,” ucapnya.

Kasan, pengemudi ojek tradisional mengatakan, pihaknya bukan tidak menerima jaman digital. Tetapi, dia minta pemerintah melakukan langkah tertentu agar Gojek tersebut tidak mematikan mata pencaharian warga kecil seperti dirinya. “Sekarang tambah banyak, jadi pengaruh ke pendapatan kami. Sementara kalau harus gabung ke gojek kan kami udah tua, gak mengerti teknologi,” tuturnya.

Sejumlah ojek online yang tergabung dalam Gojek membenarkan adanya penolakan di sejumlah kawasan perumahan dan pusat keramaian di Kota Serang. Terkadang, penolakan itu sudah dalam bentuk “pencegatan” yang memaksa menurunkan penumpang. “Kekhawatiran akan tindakan kekerasan memang ada Pak. Tetapi kami dipesan dari perusahaan agar tetap berbuat baik, ramah dan mengajak berbicara dengan ojek tradisional,” katanya.

Seorang pengemudi ojek online menuturkan pengalamanya ketika mengantarkan penumpang ke daerah Trondol. Pengemudi ojek online itu dicegat oleh tiga orang pengemudi ojek tradisional. Dia menjelaskan bahwa hanya mengantarkan penumpang, bukan mengambil penumpang dari daerah Trondol. Namun ketiga ojek tradisional dan sempat menarik jaket warna hijau hitam khas Gojek.

“Silahkan bapak melakukan kekerasan ke saya, tetapi ingat pak ini akan menjadi persoalan hingga ke kepolisian. Nanti, peristiwa ini juga diliput oleh wartawan. Yang rugi bukan saya pak. Bapak-bapak nanti yang akan ditahan di kepolisian. Nanti siapa yang akan memberi makan anak dan isteri bapak?. Kalau saya, sudah sembuh dari pemukulan bapak-bapak, saya bisa ngojek lagi. Kalau bapak, bisa lama dipenjara,” kata seorang pengemudi ojek online yang menceritakan pengalamanhya kepada mediabanten.com.

Menguntungkan Konsumen

Sejumlah warga Kota Serang mengatakan, kehadiran ojek online, terutama Gojek menguntungkan warga. Keuntungannya adalah warga tidak harus mencegat pengemudi ojek di pinggir jalan, cukup memesan melalui aplikasi di smarthphone. Pegemudi ojek online akan menjemput dan mengantarkan ke tujuan.

“Kami tidak terlalu khawatir dengan pengemudi ojeknya. Kalau ojek online, kan pengemudinya terdaftar, memiliki surat-surat resmi. Identitas pengemudinya jelas. Kalau ojek tradisional kan kebanyakan tidak kenal. Kalau ada apa-apa, kami kerepotan untuk mencari identitasnya,” kata Ririn, warga di Perumahan Serang Hijau, Kota Serang.

Keuntungan lainnya menggunakan ojek online adalah biayanya sudah ditentukan ketika memesan ojek online melalui fasilitas GoRide di aplikasi Gojek. Pada ojek tradisional, biaya itu tidak bisa langsung diketahui, tetapi harus tawar-menawar, sehingga disepakati biayanya. Namun ojek tradisional tak memiliki standar biaya, sehingga memasang tarif mengantarkan penumpang sekehendak hatinya.

“Dan enaknya di Gojek, konsumen bisa komplain kepada perusahaan jika pengemudi ojek online tidak ramah, tidak mengenakan seragam atau memakai baju asal saja, berbau dan sebagainya. Kalau ojek tradisional, kami mau komplain ke mana?,” kata Ririn. (IN Rosyadi)

Berita Terkait