Relawan Mapala Serang Rayakan Idul Adha di Lokasi Gempa Lombok Utara

Foto: Sofi Mahalali

Menjalani suasana malam hari raya idul adha pasca gempa yang melanda lombok menjadi pengalaman baru bagi Yudha Dwi Taruna, seorang mahasiswa pencinta alam yang biasa disapa Paol, Rabu (23/08/2018).

Paol dan dua rekannya yakni Suproni dan Wawan Gunawan berangkat menuju Lombok Utara pada Senin (21/08/2019). Sebelumnya ia dan organisasi Mapala Serang menginisiasi penggalangan dana bantuan bagi korban bencana di Dusun Santong Asli, Lombok Utara, Nusa Tenggara Timur.

Yudha mengatakan, untuk malam takbir hari raya idul adha tidak ada yang berbeda, lantaran malam tersebut merupakan malam kemenangan dalam menyambut hari raya idul adha. Akan tetapai, yudha menuturkan, hanya kondisi mengumandangkan takbir saja yang berbeda, yaitu didalam Posko Bencana yang sekaligus dijadikan Mushola sementara bagi para korban.

“Kalau untuk malam nya tidak ada yang berbeda karena ini merupakan malam kemenangan untuk kita semua karena menyambut hari raya idul adha, tapi mungkin yang berbeda keadaannya yang mengumandangkan takbir didalam posko bencana sekaligus mushola sementara,” katanya.

Baca: Mapala Serang Kirim Relawan Untuk Korban Bencana di Lombok Utara

Yudha mengatakan, minimnya bantuan sembako kepada korban bencana, menjadikan sebuah kendala dalam peryaan hari raya idul adha. Bahkan, Yudha menjelaskan, dengan kondisi tersebut ia dan relawan lainnya langsung membeli beras 10 karung, sayuran, dan telur untuk dibagikan di Dusun Santong Asli.

“Misalkan kemarin (21/08/2018), ada bantuan telor hanya 1 nampan isi 30 butir. Itu untuk 184 KK, kan ga masuk akal. Hal tersebut karena mungkin bukan hanya Lombok Utara saja yang terkena musibah, jadi bantuannya dibagi-bagi,” tambahnya.

Yudha mengatakan, sejak bencana melanda. Beberapa sekolah terpaksa diliburkan. Hal tersebut dilakukan labtaran kondisi sekolah yang rusak parah. Dibeberkan Yudha, pada hari sabtu (18/08/2018) dewan guru sempat mengadakan rapat untuk membuka sekolah darurat. Namun rencana tersebut dibatalkan, karena pada malam harinya gempa terjadi kembali, dan alhasil sekolah pun terpaksa diliburkan kembali dengan alasan kemanan para siswa.

“Yang membuat semangat berada di sini itu, ketika melihat anak kecil meminta belajar bersama,” kata Yudha, seorang mahasiswa Unitirta. (Sofi Mahalali)