Usaha Mikro Peserta Jamsosratu Lemah Pemasaran Produk dan Modal

Foto: Dinsos Banten

Kesulitan modal dan pemasaran produk usaha mikro merupakan persoalan klasik, termasuk usaha mikro dari para peserta bantuan nontunai Jaminan Sosial Banten Bersatu (Jamsosratu). Keberhasilan usaha mikro peserta Jamsosratu menjadi penting karena indikator keberhasilan peningkatan kelas dari tidak mampu menjadi mampu.

Bagi Dinas Sosial Provinsi Banten, sebagai pengemban amanah dalam melaksanakan program Jamsosratu, menjadi penting untuk mendorong usaha mikro milik peserta Jamsosratu untuk tumbuh dan berkembang agar menjadi andalan bagi penghasilan keluarganya. “Salah satu konsep pemberdayaan ekonomi dalam Jamsosratu adalah peserta didorong untuk usaha. Jika usahanya sudah layak dan mencukupi kebutuhan keluarga, maka Jamsosratu bisa dialihkan kepada warga miskin lainnya yang membutuhikan,” kata Budi Darma S, Kasi Jamsokel Dinas Sosial Provinsi Banten, Rabu (21/11/2018).

Budi Darma membenarkan, pihaknya terus membangun sinergi dan berkoordinasi dengan instanasi atau lembaga yang menangani usaha mikro kecil dan menengah mulai dari tingkat kabupaten / kota hingga pusat. “Di situ indikator keberhasilan Jamsosratu bisa dilihat. Artinya, mereka tidak hanya menerima bantuan saja, tetapi suatu saat mereka harus memilik penghasilan sendiri,” ujarnya.

Budi mencontohkan produk jahe merah instan yan diproduksi Irnawati, peserta Jaminan Sosial Banten Bersatu (Jamsosratu) di Kampung Tegal Kamal, RT 14/RW 02, Desa Renged, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang.

Baca: Wagub Banten dan Pendamping Jamsosratu Gelar Acara di Bandung

Dengan merek Irnatreny, produk minuman jahe merah instan masih berkisar 20 bungkus per hari dengan harga jual Rp12.000 per bungkus. Secara kemasan, Irnawati sudah mendapatkan pelaltihan khusus packaging. Jaringan pemasaran yang masih lemah merupakan faktor utama kesulitan untuk mengembangkan produk.

Irnawati, warga Kampung Tegal Kamal, RT 14/RW 2, Desa Renged, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang memang tidak pernah membayangkan bakal memiliki usaha sendiri. Kehidupan ekonominya yang serba pas-pasan membuatnya untuk menghapus impian tersebut.

Namun sejak menjadi peserta Jaminan Sosial Banten Bersatu (Jamsosratu) dari Dinas Sosial Provinsi Banten tahun 2016, keinginan itu muncul kembali. Apalagi para pendamping dan operator bagi keluarga penerima manfaat (KPM) selalu menyemangati Irnawati agar bisa membuka usaha sekelas usaha mikro, usaha yang sangat sederhana yang bisa dikerjakan di rumah.

Irnawati yang memiliki anak yang belajar di kelas 4 SD Nurul Fallah itu didorong untuk mengikuti berbagai pendidikan dan pelatihan yang digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tangerang. Irnawati memilih mengikuti pelatihan membuat minuman jahe merah instan. Pembuatan minuman jahe merah instan ini terbilang mudah, murah dan bisa dibuat dengan peralatan yang sederhana.

Ketekunan dan tekad Irnawati memang membuahkan hasil. Pada bulan April tahun 2018, dia mulai meluncurkan produk minuman instan jahe merah dengan merek Irnatreny. Produksinya masih terbilang sedikit, saat ini masih berkisar 20 bungkus per hari dengan harga jual Rp12.000 per bungkus. Kemasan produk itu cukup menarik.

“Terima kasih kepada Bapak Gubernur Banten Wahidin Halim dan Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy atas program bantuan non tunai Jamsosratu yang diberikan kepada kami masyarakat Kresek. Program bantuan non tunai Jamsosratu sangat membantu saya, yang membutuhkan perhatian dari Pemerintahan Provinsi Banten,” kata Irnawati. (IN Rosyadi)

IN Rosyadi

Jurnalis at MediaBanten.Com
Menjadi wartawan sejak tahun 1984 pada Harian Umum (HU) Kompas, kemudian mengundurkan diri pada Agustus 1999 dan menjadi wartawan harian sore Sinar Harapan pada tahun 2001 hingga tahun 2015, saat koran sore ini bangkrut. Pengalaman ini memadai untuk menjadi seorang editor yang mumpuni.

Berita Terkait