HeadlineHukum

Wabup Serang Benarkan Ditemukan 1.500 Orang Tergabung Komunitas LGBT, Siapkan Pembinaan

Wakil Bupati Serang, Muhammad Najib Hamas membenarkan mendapatkan laporan bahwa ditemukan 1.500 orang di Kabupaten Serang yang tergabung dalam jejering grup dan komunitas LGBT atau lesbian, gay, biseksual dan transgender.

Karena itu, Pemerintah Kabu[aten (Pemkab) Serang segera menyiapkan langkah-langkah pembincaa secara humanis agar tidak menimbullkan persoalan yang tidak diinginkan di masyarakat.

Wakil Bupati (Wabup) Serang Muhammad Najib Hamas di Serang, Rabu, mengatakan temuan jumlah ribuan orang tersebut berdasarkan laporan dari para pemerhati masalah sosial di Kabupaten Serang.

“Laporan dari pemerhati masalah ini, di Kabupaten Serang sudah kurang lebih terdata 1.500 anggota komunitas LGBT. Itu melalui online, IG, dan sebagainya,” ungkap Wabup Najib.

Lebih lanjut,ia membeberkan bahwa anggota yang tergabung di dalam jejaring sosial tersebut sangat acak dan berasal dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari pelajar, manajer, petani, hingga profesi lainnya. Mereka disinyalir kerap mengadakan pertemuan secara mandiri di kafe atau titik kumpul tertentu.

Merespons besarnya temuan anggota grup tersebut, Pemkab Serang memilih mengedepankan pendekatan secara persuasif. Najib telah meminta instansi terkait untuk segera turun tangan menangani komunitas yang sudah terlanjur terbentuk ini.

“Kalau yang sudah terbentuk komunitas, maka kita minta dinas terkait yakni Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan untuk melakukan pembinaan. Diharapkan lewat pendekatan edukasi ini mereka bisa kembali kepada kehidupan yang semestinya, sesuai dengan harapan keluarga,” tuturnya.

Untuk mendalami anggota grup tersebut, Pemkab Serang juga akan menelusuri dugaan adanya keterlibatan Aparatur Sipil Negara (ASN). Jika terbukti ada ASN yang tergabung, pemerintah daerah tidak segan menindak tegas sesuai aturan melalui Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM).

Di sisi lain, Wabup Serang secara tegas melarang masyarakat maupun organisasi kemasyarakatan (ormas) bertindak main hakim sendiri dalam merespons temuan komunitas ini.

Pihaknya tengah mengonsolidasikan kelompok masyarakat, alim ulama, dan para pendidik, agar bersinergi melakukan pencegahan lewat edukasi bahaya LGBT secara humanis, yang disebutnya sebagai salah satu ancaman kedaulatan non-militer. (Oleh Desi Purnama Sari – LKBN Antara)

Iman NR

Back to top button