Lingkungan

864 Keluarga Terdampak Banjir 9 Kecamatan di Pandeglang

Setidaknya, 864 keluarga terdampak banjir yang melanda 9 kecamatan di Kabupaten Pandeglang akibat hujan deras sejak Senin (22/11/2021).

Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Pandeglang, Usep Sugih Mulyadi mengatakan, beberapa hari ini wilayah Pandeglang terus diguyuri hujan lebat serta mengakibatkan sejumlah kecamatan mengalami banjir.

“Untuk yang saat ini kami mendata 9 kecamatan yang terdampak genangan banjir yaitu Kecamatan Cikeusik, Cigeulis, Cibaliung, Sumur, Patia, Sobang, Panimbang, Angsana dan Munjul,” ungkap Usep.

Dikatakan, BPBD Pandeglang, TNI Polri mengambil langkah cepat penanganan banjir di 9 kecamatan tersbut.

“Kami juga saat ini sudah menyiapkan bantuan logistik seperti makanan, tenda pengungsian untuk warga yang yang rumahnya tergenang dampak banjir,” katanya.

Namun, hingga saat ini pihaknya melihat Selasa (23/11/2021) genangan air sudah mulai surut. “Untuk genangan air masih sekitar 30 cm saat ini dan sudah mulai surut,” katanya.

BPBD Pandeglang tetap mengimbau warga untuk tetap waspada, meskipun genangan air mulai surut.

“Kami juga saat ini terus memantau dan terus memberikan imbauan kepada masyarakat agar tetap waspada adanya banjir susulan, karena hingga saat ini wilayah Pandeglang masih terus diguyuri hujan sedang,” pungkasnya.

Sebelumnya, Bupati Pandeglang, Irna Narulita mengaku, sudah kerap menjalin koordinasi dengan instansi terkait untuk mengatasi banjir di Pandeglang, khususnya wilayah selatan.

Koordinasi dilakukan karena sejatinya, Pemkab Pandeglang tidak memiliki kewenangan penanganan atas sejumlah sungai yang mengaliri Pandeglang.

Irna menyebut, sejumlah sungai yang melintasi wilayah Pandeglang merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dan pemerintah pusat. Belum lagi soal penanganan hutan di beberapa hulu.

“Kan saya juga koordinasi, karena memang curah hujan debitnya sangat tinggi. Karena kewenangan sungai sama sekali tidak ada di kita. Adanya di provinsi dan pusat,” katanya, Sabtu (30/1/2021) seperti dilansir rri.co.id.

Irna menjelaskan, rutinnya banjir menggenangi Pandeglang, didasari oleh dua hal utama, yaitu berkurangannya lahan di pegunungan dan terjadinya sedimentasi di aliran sungai.

“Kami koordinasi juga dengan Perhutani dan DLH Provinsi Banten agar ada peremajaan hutan. Kami khawatir di atas gunung sana sudah gundul. Harapan kami mana tupoksinya peremajaan, bahkan pusat juga supaya bisa dilakukan penanganan sedemikian rupa,” sambungnya.

Irna mengaku, sudah berkali-kali memohon kepada Pemprov Banten melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), untuk menormalisasi sejumlah aliran sungai, seperti Sungai Cilemer dan Cilatak.

Namun sampai saat ini, permohonan itu belum juga terealisasi. Akibatnya saat ini beberapa kecamatan kembali terendam banjir. Padahal bencana banjir sudah rutin terjadi setiap datangnya musim hujan.

“Koordinasi dan usulan tiap tahun kami sampaikan ke provinsi. Tapi kan ga mungkin juga masyarakat tahu. Masyarakat tahu nya itu tanggung jawab Pemkab. Tapi kami paham, mungkin fiskal terbatas. Tapi prioritas lah. Kalau usulan kami dari 4 tahun sama, wayahna (mohon pengertiannya),” ujar Irna.

(Reporter: M Hafidz Fathurrohman / Editor: Iman NR)

SELENGKAPNYA
Back to top button